“Aku yang Menyebutmu dalam Diam”
Aku tidak pernah benar benar memanggilmu,
tapi entah kenapa namamu selalu menemukan jalannya di kepalaku yang terlalu riuh.
Kita tidak punya apa-apa,
bahkan mungkin tak pernah memulai,
tapi rasanya seperti ada sesuatu yang diam-diam tumbuh
di sela pertemuan yang tak direncanakan.
Aku pernah mencoba bersikap biasa,
menyimpanmu sebagai lalu lalang,
seperti orang asing lain yang datang dan pergi tanpa arti
Tapi kau berbeda atau mungkin aku yang terlalu memberi makna.
Sebab bagaimana mungkin diam yang sama bisa terasa begitu penuh?
Aku sering bertanya pada jarak yang kita jaga rapi,
apakah ia memang batas,
atau hanya cara kita menyembunyikan arah yang sama.
Dan jika ini hanya aku, biarlah.
Aku tidak marah pada rasa,
hanya belajar untuk tidak memintanya menjadi nyata sebelum ia benar-benar ada.
Karena kali ini, aku tidak ingin tersesat di sesuatu yang bahkan tidak pernah bernama.
“Di Antara Jarak yang Tidak Pernah Diukur”
Aku pernah berdiri di ambang yang tidak bernama,
melihatmu seperti orang membaca hujan
tidak benar-benar memahami,
tapi tahu ada sesuatu yang jatuh perlahan.
Kita adalah dua jeda yang terlalu lama saling diam,
seolah waktu sengaja menahan langkah agar tak ada yang benar-benar tiba.
Aku ingin menyebut ini pertemuan,
tapi rasanya lebih seperti kebetulan yang terlalu sering berulang
hingga terasa seperti takdir yang ragu-ragu.
Kau pernah terasa dekatseperti bayangan di permukaan air, terlihat,
namun setiap kali ingin kusentuh, ia hanya bergetar dan menjauh.
Dan aku, barangkali hanya penonton dari kemungkinan yang tak pernah selesai,
yang memilih diam karena takut salah mengartikan arah.
Jika suatu hari jarak ini menemukan bahasanya,
mungkin kita akan tahu-apakah kita memang pernah berjalan ke arah yang sama,
atau hanya saling melintas dengan perasaan yang kebetulan serupa.





