Jika kebenaran yang kita genggam hanyalah 1/2 dari sebuah bayangan yang memudar, dan sisanya adalah lubang hitam yang kita beri nama “takdir”, dengan material apa kita akan menambal kekosongan yang menganga itu?
I have seen the moment of my greatness flicker, dan aku telah melihat tangan-tangan yang gemetar Mencoba menjahit luka kosmik dengan benang-benang rasionalitas.
“Tuhan,” tuntut kita dengan suara serak, “Terimalah fragmen ini sebagai keseluruhan!” tapi angka 1/2 itu berdenyut, menolak untuk tenang, Ia menuntut pasangannya yang kita buang ke dalam sumur keinginan. Kita ingin keselamatan tanpa penyerahan, Kita ingin angka 4 tanpa harus melewati angka 1, 2, dan 3 yang berdarah.
“Ambillah ini,” kata kita, menyodorkan potongan kebenaran yang tak rata.
“Ambillah, tapi jangan minta sisanya kembali.
Aku tidak meminta 1/2 yang hilang itu untuk Kau pulangkan.
Biarkan ia tetap di sana, di dalam gelap, di bawah ranjang,
Di tempat di mana aku bisa menjadi diriku tanpa pengawasan-Mu.”
Ini adalah negosiasi yang ganjil:
Kita tidak menawar untuk memiliki lebih, Kita menawar untuk diizinkan memiliki kurang.
Kita mencintai kekurangan ini seperti kita mencintai bekas luka;
Karena dalam angka 3 yang pincang, ada ruang untuk bersembunyi, sedangkan dalam angka 4 yang genap, tak ada lagi sudut untuk lari.
I have seen the eternal Footman hold my coat, and snicker, dan kita membalas tawa itu dengan menyodorkan koin palsu.
“Tuhan,” bisik kita, setengah menantang setengah memelas,
“Bukankah Engkau yang menciptakan ruang kosong?
Maka biarlah aku mengisi ruang kosong itu dengan pilihanku sendiri.
Jangan tambal 1/2 kebenaranku dengan cahaya-Mu yang menyilaukan.
Biarkan aku menjahitnya dengan benang hitam, dengan rahasia kecil,
Dengan debu dari jalanan yang tidak pernah Kau lalui.”
Kita ingin Tuhan yang memaklumi akuntansi yang curang.
Kita ingin keselamatan yang diskon, surga yang menerima barang cacat.
Kita memanipulasi bukan untuk naik ke langit,
Tapi agar langit turun sedikit lebih rendah, setinggi ego kita yang kerdil.