Jariku melahap hal yang sia-sia di jalur timeline, aku menjadi orang yang tidak bisa berpikir sebagai manusia.
Minggu ini khalayak dikagetkan, ada juri yang sangat bebal.
Cerdas cermat yang beredar di media sosial jauh lebih kepada membual beradu argumen penuh sentimen.
Dari sisi lain, ada pula film yang pantas tampil untuk membuka tabir, mencoba dihilangkan oleh segelintir penjaga negara yang suka lendir.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan.
Ramalanku seperti ini untuk beberapa tahun ke depan.
Hidup dengan sedikit bantuan, sisa-sisa kerongkongan akan pudar seperti rongsokan,
dan siap mereka makan picis demi picisan.
Apakah benar aku akan mati seperti Simón Bolívar?
Jika itu benar, kita coba lihat lebih dalam lautan akar.
Selat serabut belukar yang menuntun sampai dasar,
membuat inti akal merasa harus makar tanpa bantuan mereka dengan label pakar.
Aku di sini membuat kalian berkobar!
Dengan begitu mereka akan gusar, otak menjadi sangat pengar, lambat laun tubuh terasa terbakar.
Berlari ke luar mencari APAR, kebingungan, lalu menelepon TIM SAR.
Hingga pada akhirnya, kita tidak perlu Densus 88 Antiteror.
Seharusnya itulah impian aku sebagai budak kantor.
Orang-orang diktator yang otaknya error tidak butuh kekuatan layaknya Thor untuk membuat mereka menjadi lebih kaya.
Hanya sedikit campuran minyak yang dioleskan ke vibrator untuk menambah rasa enak di selangkangan kotor—itu pun sudah cukup membuat jamuan untuk mereka merasa lebih emperor.
Ini fakta baru yang kalian harus tahu.
Dulu aku pernah interogasi perilaku manusia sebagai wartawan televisi.
Kurekam laku macam ayam betutu yang punya muka seperti kutu buku.
Tak disangka, kutemukan semua fakta telah berubah warna jadi abu-abu.
Hal itu membuatku berpikir: kenapa aku ini sangat bego?
Mudah sekali untuk bolak-balik bagai lato-lato.
Bahkan kalian yang punya banyak deposito, sering pidato berbicara netto dan bruto, pada akhirnya diam lunak layaknya bandeng presto yang siap dimakan oleh Sumanto.
Ketakutan Yang Terpendam
Shares: