Sastra

Pada Niscaya

Biar dunia mengutuk!
Namun,
lagi,
lagi,
dan lagi.
Doa Kasih-ku,
tak pernah putus memeluk.

Aku harap—
semua luka,
tak lagi nanar—
tak lagi menutup,
segala yang benar.

Biar dia,
jadi pijar-pijar api,
yang bisa dirasa,
hanya lewat jeda.
Lewat jarak yang jauh—
seraya menghangatkan.
Sebab,
dia tidak lagi berada—
di dalam dekat yang membakar.

Biar sinarnya,
mengihiasi gelap,
hingga tak lagi gulita.
Sebab,
Aku harap.
Sinar itu,
jadi pelita yang menghantarkan—
pada Niscaya.

/adind.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *