Sore itu berbeda dari sore biasanya.
Dafin, seorang mahasiswa baru yang baru dua bulan menginjakkan kaki di salah satu universitas tertua di Jakarta, kampus yang dijuluki kampus perjuangan- tengah duduk di taman kotak bersama teman-teman seangkatan dan beberapa seniornya. Obrolan sore itu berputar pada program kerja calon ketua HIMA, bernama farid.
Perbincangan terus mengalir, panjang dan hangat, hingga salah satu senior mengajak mereka semua makan bersama, sambil melanjutkan diskusi (yang Dafin yakini sebenarnya adalah bagian dari agenda kampanye yang terselubung)
Selepas makan, mereka kembali ke taman kotak, melanjutkan obrolan yang sempat terjeda.
Namun kali ini muncul seorang mahasiswi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Perempuan itu baru saja tiba—dan sesuatu dalam diri Dafin tanpa sadar memperhatikannya lebih dari yang seharusnya. Ada yang berbeda dari dirinya dibanding mahasiswi lain yang selama ini ia temui di kampus.
Penampilannya tidak biasa, pilihan pakaiannya terasa seperti pemberontakan kecil yang dilakukan dengan sangat sadar, rebel, tapi tetap manis. Dan ketika ia tersenyum menyapa orang-orang yang ada di sana, matanya menyipit namun membinar terang seperti bulan dimalam hari, dan sektika dafin berpikir dan bicara dalam hati
“gile ini tipe gue banget, siapa ya namanya dan apakah udah punya cowk nih orang”
Belum sempat terjawab pertanyaan dafin tersebut, tiba tiba perempuan itu bergerak dari satu orang ke orang lain, menyalami semuanya tanpa ragu, hingga tibalah gilirannya bersalaman dengan Dafin.
“Eh, lu anak 25, ya? Nama lu siapa? Gua Via, salam kenal, ya.”
Seketika itu juga jantung Dafin berdebar kencang, sangat kencang, seolah ia diterpa angin badai yang datang tiba-tiba.
Mungkin benar kata orang, pandangan pertama bisa membuat seseorang jatuh cinta. Dan barangkali kalimat itulah yang paling tepat menggambarkan apa yang ia rasakan saat itu.
Sepulang dari pertemuan tersebut, Dafin segera mencari akun Instagram kakak tingkatnya itu. Tak butuh waktu lama, ia menemukannya. Diikutinya akun itu, dan tak lama kemudian, permintaannya dibalas- kakVia mem-follback dirinya. Ada rasa senang yang sulit digambarkan menjalar di dadanya.
Namun saat itu, Dafin hanya berpikir sederhana- bahwa ia dan kak Via hanyalah sebatas kakak tingkat dan adik tingkat, tidak lebih dari itu.
Hari-hari berlalu seperti biasa, meski diam-diam pikirannya kerap melayang, bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok kak via itu. Sampai pada suatu titik, muncul perasaan yang tak bisa ia sangkal, bahwa setiap kali bertemu dengan Kak Via, hidupnya terasa lebih cerah dan lebih berwarna.
Memasuki bulan Ramadhan, angkatan 25 mendapat undangan untuk menghadiri kegiatan HIMAJIP Growth sekaligus buka bersama dengan angkatan 24 dan 23.
Namun beberapa hari sebelum acara itu berlangsung, Dafin sempat bertemu Kak Via di taman kotak. Saat itu Dafin hendak menuju lorong kampus, sementara Kak Via tampak akan meninggalkan area kampus.
Dari kejauhan, Dafin melempar senyum-sekadar bentuk rispek yang biasa ia tunjukkan pada kakak tingkat lainnya. Senyum itu disambut hangat oleh Kak Via. Memberanikan diri, Dafin pun menyapa.
“Kak,” ucapnya pelan, masih dengan senyum tersungging di wajahnya.
Kak Via berhenti sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang berusaha mengingat-ingat.
“Ehh, siapa nama lo? Gue lupa,” katanya sambil sedikit tertawa.
Dafin tidak langsung menjawab. Ada secercah keisengan yang muncul begitu saja.
“Coba tebak,” balasnya.
“lo Inget nama gue, gak?” Kak Via balik bertanya, seolah menantang.
“Inget dong, Kak. Kak Via, kan,” jawab Dafin mantap, nyaris tanpa jeda.
Kak Via tampak terkejut, alisnya terangkat sedikit.
“Gilee, keren masih inget nama gue. Nama lo siapa jadinya?”
“Dafin, Kak. Iya dong inget, kan udah follow-followan Instagram,” jawabnya, berusaha terdengar santai meski jantungnya berdebar tak karuan.
Percakapan itu mengalir begitu saja. Dafin, yang masih ingin memperpanjang momen tersebut, melontarkan pertanyaan basa-basi.
“Ehh, Kak Via, itu yang dikirim di grup apa sih Kak? Open rekrutmen HIMAJIP, ya?”
“Hah? Bukan, gilaa,” Kak Via tertawa kecil.
“Itu buat acara HIMAJIP Growth. Kasih tau angkatan lo, ya, jangan sampai pada gak ngisi gform pendaftaran, loh, ya.”
“Siap, Kak Via, aman,” jawab Dafin cepat.
“Yaudah, gue duluan, ya.”
“Iya, Kak, makasih penjelasannya.”
Mereka pun berpisah, masing-masing melangkah ke arah yang berlawanan.
Dari pertemuan kedua itulah, Dafin seperti dibuat mabuk kepayang oleh senyum dan tatapan Kak Via yang, entah kenapa, terasa menyimpan secercah harapan.
Hari acara HIMAJIP Growth pun tiba. Di momen itulah perasaan menggebu-gebu dan gejolak cinta dalam diri Dafin semakin menguat. Bagaimana tidak, kakak tingkat yang diam-diam ia taksir itu melontarkan sebuah candaan ringan di hadapan banyak orang.
“Ini bukan open rekruitmen HIMAJIP, ya.”
“ehh, iya kak via…”
acara berjalan lancar dan semua mahasiswa dan hamasiswi membubarkan diri.
timbul perasaan yang tidak biasa dalam hati dafin, perasaan yang gusar jika tidak bertemu kak via satu hari saja.
Hari berlalu sebagaimana mestinya kehidupan seorang mahasiswa, kuliah, nongkrong, dan sesekali turun ke jalan untuk aksi demonstrasi.
Hingga tibalah malam sehari sebelum kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung.
Malam itu, Dafin sedang berada di balik meja bar. Selain mahasiswa, ia juga seorang barista di salah satu kafe, dan hari itu adalah salah satu hari paling melelahkan yang pernah ia jalani. Tubuhnya penat, namun pikirannya belum sepenuhnya bisa diajak diam.
Pukul 23.49, layar ponselnya menyala. Notifikasi WhatsApp. Dari Kak Via.
“Besok berangkat PM loh, udah persiapan belum?”
Dafin menatap layar itu sejenak sebelum mengetik balasan.
“Udah dong, Kak. Tinggal berangkat nih.”
“Gimana perasaan lo? Pasti deg-degan.”
“Biasa aja sih, Kak, hehe.”
“Btw, gimana pandangan lo setelah hampir satu semester satu kelas sama gue? Sesuai ekspektasi gak?”
Dafin berhenti sebentar. Jari-jarinya menggantung di atas layar. Ada jawaban jujur yang tersangkut di suatu tempat dalam dadanya, tapi ia memilih menelannya—dan menggantinya dengan jawaban yang terdengar lebih tenang, lebih dingin, lebih tidak terbaca.
“Gak gimana-gimana sih, Kak, karena gue gak pernah berekspektasi apapun.”
“Ohh, gitu yaa.”
Percakapan itu terus mengalir hingga Dafin tiba di rumah, dan ia pun tertidur dengan ponsel yang masih hangat di genggaman.
Namun jauh sebelum malam itu, keduanya sudah lebih dulu saling bertukar pesan. Bermula dari Dafin yang membalas story Instagram Kak Via, lalu Kak Via yang membalas notes Instagram miliknya—dan dari sanalah benih-benih harapan itu mulai tumbuh diam-diam di dalam hati Dafin.
Dafin menilai—atau mungkin lebih tepatnya, berharap—bahwa tidak mungkin Kak Via tidak merasakan hal yang sama. Perlakuan Kak Via belakangan ini terasa berbeda, ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa begitu saja ia abaikan.
Perasaan itu aneh. Tidak nyaman, namun juga membuatnya bahagia—karena untuk pertama kalinya sejak lama, hatinya tengah berbunga-bunga.
Kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung selama tujuh hari.
Di sebuah desa yang Jauh dari hiruk-pikuk kampus, jauh dari taman kotak dan kabel, jauh dari rutinitas yang selama ini menjadi pembatas antara mereka berdua.
Di sanalah Dafin mendapati dirinya lebih sering berada di dekat Kak Via dari biasanya- walaupun tanpa obrolan yang mendalam.
hanya ada saling lirik-melirik, sapa menyapa dan berbalas senyum.
Empat hari berlalu. Seluruh peserta yang sedang melakukan pengambilan data melalui wawancara terhadap warga sekitar memutuskan untuk beristirahat sejenak, meringankan pikiran dan badan yang mulai terasa berat.
Dafin beranjak meninggalkan rumah yang ia tempati, berniat membeli sebungkus rokok. Di perjalanan, ia mendapati para panitia, yang beranggotakan senior-seniornya sedang berkumpul di bawah pohon asam yang berjarak tidak jauh dari rumah tinggalnya. Dafin menghampiri mereka, mencoba berbaur. Semua berjalan normal, hingga seorang senior bernama Kak Mita menghampirinya.
“Ehh, rumah lo di deket kuburan SMP 1, ya?”tanya kak mita dengan wajah yang penasaran
Dafin mengernyit. “Lohh, kok tau, Kak? Iya, rumah gue di deket sana. Kak Mita tau dari mana?”jawab dafin yang terlihat kebingungan
“Pantes aja, gue pernah liat lo disana,” jawab Kak Mita dengan nada meyakinkan.
Dafin masih belum sepenuhnya mengerti, kepalanya masih sibuk mencerna dari mana Kak Mita bisa mengenali lokasi rumahnya, ketika tiba-tiba sebuah pertanyaan mendarat tanpa peringatan.
“Lo suka sama Via, ya?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kak Mita- pelan, tapi tepat sasaran, disertai senyum yang terasa seperti ia sudah tahu jawabannya sejak tadi.
Dafin membeku sedetik. Wajahnya hampir kehilangan warnanya.
“Ehh, nggak, Kak. Kak Mita tau dari siapa?” jawabnya, berusaha terdengar biasa. Tapi suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.
“Keliatan tau,” kata Kak Mita singkat, masih dengan senyum yang sama.
Dafin tidak punya jawaban untuk itu. Ia hanya terdiam, matanya sedikit menghindar.
“Coba aja deketin dulu,” lanjut Kak Mita, kali ini nadanya lebih lunak.
“Sepertinya Via juga berharap lo deketin.”
Sesuatu di dalam dada Dafin bergerak, antara harapan yang tiba-tiba menyala dan kepanikan yang belum sepenuhnya padam.
“Ehh… iya, Kak Mita, nanti gue coba deh,” jawabnya tergesa-gesa, sudah setengah melangkah mundur.
“Gue balik ke rumah duluan ya, gak enak ditunggu anggota kelompok gue.”
Ia berbalik sebelum Kak Mita sempat menjawab.
Langkahnya cepat, tapi pikirannya jauh lebih cepat dari itu- berputar tanpa henti di sekitar satu kalimat yang baru saja ia dengar.
Sepertinya Via juga berharap lo deketin.
Hari kelima pengabdian masyarakat jatuh pada hari Jumat.
Para peserta diminta untuk melakukan bakti sosial, kerja bakti di salah satu masjid yang berdiri di tengah desa. Dafin menyeret dirinya mengikuti kegiatan itu, tubuhnya sudah mulai protes sejak pagi, namun ia tetap mengerjakan bagian yang diberikan tanpa banyak bicara.
Selesai membersihkan lantai bawah, ia memilih duduk sejenak di depan masjid, Sendirian. Membiarkan angin siang pagi desa itu menyentuh wajahnya yang masih basah oleh keringat.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
“Nyantai bener lo. Ikut gue, bersihin lantai atas.”
Dafin menoleh. Kak Mita berdiri di hadapannya, entah dari mana datangnya. Dengan ekspresi yang tidak menerima penolakan.
“Ehh, ini gue baru beres bersihin bawah, Kak,” jawab Dafin, suaranya sedikit memelas.
“Udah, ayo ikut gue ke lantai atas.”
Tidak ada ruang untuk berdebat. Dafin bangkit, mengikuti langkah Kak Mita menaiki tangga dengan langkah yang jauh lebih berat dari biasanya.
Yang terjadi setelahnya membuat Dafin benar-benar tidak mengerti.
Begitu tiba di lantai atas, tanpa satu kata pun yang terucap, Kak Mita seperti menyerahkannya begitu saja kepada Kak Via yang sudah berdiri di sana, lalu pergi seolah memang dari awal tidak ada urusan lain selain mengantar Dafin ke titik itu.
Dafin sempat melirik ke arah Kak Mita yang sudah menghilang di balik tangga, lalu kembali menatap ke depan.
Kak Via menatapnya.
“Ikut gue kesana. Lo bersihin bagian sana.”
“Ehh… iya, Kak. Oke,” jawab Dafin tanpa perlawanan. Tubuhnya terlalu lelah untuk mempertanyakan apapun.
Mereka berjalan menuju sudut yang dimaksud. Kak Via berhenti, menunjuk ke area di depannya.
“Lo sapu bagian ini, sama tangganya. Abis itu dipel, ya.”
Dafin mengangguk, mengambil sapu yang tersandar di dinding, dan mulai bekerja dalam diam. Tidak ada tenaga tersisa untuk berbicara.
Tapi Kak Via tidak pergi.
Ia tidak beranjak, tidak mencari pekerjaan lain di sudut yang berbeda. Ia justru tinggal di sana, kadang membantu, kadang hanya berdiri, kadang melontarkan kalimat-kalimat kecil yang tidak terlalu penting namun terus mengalir, seolah sengaja mengisi keheningan yang Dafin ciptakan.
Dan Dafin, yang terlalu lelah untuk berpikir panjang, hanya merespons seadanya. Tapi di suatu tempat di dalam dadanya, di balik tubuh yang penat dan keringat yang belum kering- ada sesuatu yang diam-diam mencatat semua ini.
Bahwa Kak Via bisa saja pergi.
Tapi ia memilih untuk tetap di sini.
Kelelahan yang tadi menghimpit tubuh Dafin perlahan mencair begitu Kak Via mulai berbicara. Entah dari mana datangnya energi itu, tiba-tiba saja tangannya lebih ringan menggenggam sapu, langkahnya tidak lagi terasa berat. Mungkin memang benar, ada lelah yang bisa disembuhkan bukan oleh istirahat, melainkan oleh kehadiran seseorang.
Percakapan mereka mengalir cukup panjang untuk ukuran dua orang yang sedang memegang sapu dan kain pel. Setelah semuanya selesai, mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
Malam itu, setelah seharian membersihkan masjid dan tubuh sudah benar-benar minta diistirahatkan, Dafin duduk di teras bersama kak tomo yang saat itu menjadi mentor nya dirumah yang ia tempati. Teman-teman sekelompoknya sudah masuk ke dalam, suara obrolan mereka sayup-sayup terdengar dari balik pintu.
Dafin menatap langit desa yang gelap tanpa polusi cahaya sambil curhat kepada kak tomo.
Bintang-bintangnya terlalu banyak untuk dihitung, tapi pikirannya hanya berputar pada satu hal, pada lantai atas masjid tadi siang, pada Kak Via yang tidak pergi, pada percakapan yang mengalir begitu saja di antara suara sapu yang bergesekan dengan lantai.
Suntuk bukan karena tidak ada yang dikerjakan. Justru sebaliknya, terlalu banyak yang dirasakan, tapi tidak ada tempat untuk meletakkannya.
Ia meraih ponselnya.
Nama itu sudah ada di sana, tepat di bagian atas daftar percakapan. Dafin menatapnya beberapa detik, jarinya menggantung di atas layar- antara ingin dan ragu, antara berani dan mundur.
Lalu ia mulai mengetik.
“Kak Via, di belakang sini ada mie ayam enak banget. Harganya sepuluh ribu udah pakai bakso. Mau cobain gak?”
Dafin meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit. Ia tahu betul bahwa mie ayam itu hanyalah alasan. Yang sesungguhnya ia tawarkan adalah sebuah kesempatan, kesempatan yang sore tadi nyaris ia dapatkan, lalu lepas begitu saja.
Notifikasi masuk.
“Mau bangettt, besok kita kesana ya.”
Tiga kata pertama itu saja sudah cukup membuat Dafin menahan senyum yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan, meski tidak ada siapapun yang melihatnya di sini.
Percakapan itu kemudian mengalir cukup panjang, ringan, tanpa beban. Dua orang yang berbicara melalui layar di dua rumah yang berbeda, di bawah langit desa yang sama, dengan jarak yang sesungguhnya tidak terlalu jauh.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Dafin tertidur tanpa perlu bersusah payah memejamkan mata.
Hari Sabtu tiba. Hari terakhir pengabdian masyarakat.
Tidak ada tugas dari panitia. Para peserta dibebaskan untuk mengisi waktu sesuka hati, mungkin tidur, berkeliling, atau sekadar duduk menatap langit desa yang berbeda dari langit kota. Dafin memilih bersantai di rumah, tapi lama-lama rasa suntuk mulai menyelinap.
Maka ketika Kak Dani, sang mentor, mengajaknya menemani membeli kelapa di luar desa, Dafin langsung menyanggupi tanpa pikir panjang. Mereka berangkat berdua menggunakan sepeda motor, menuju penjual kelapa yang jaraknya tidak dekat.
Di perjalanan, sebuah keisengan muncul di benak Dafin. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka WhatsApp.
*”Kak Via, gue lagi di tempat kelapa nih. Lu mau nitip gak?”*
Balasan datang tidak lama kemudian.
*”Ihhh, mau dong. Gue satu.”*
Dafin tersenyum kecil menatap layar ponselnya.
*”Okee, nanti stay di depan rumah aja ya, Kak. Nanti gue anter kesana.”*
Setelah membeli kelapa, Dafin dan Kak Dani mengarahkan motor menuju rumah panitia. Kak Via sudah berdiri di depan ketika mereka tiba. Dafin menyerahkan kelapa itu, dan sebelum sempat berbalik, Kak Via melontarkan pertanyaan dengan nada yang terasa seperti iseng, tapi matanya tidak sepenuhnya bercanda.
“Nanti jadi gak makan mie ayam nya?”
Dafin sedikit tergagap. “Emmm, jadi, Kak. Tapi kapan ya, kira-kira?”
“Sore kayanya gue free sih,” jawab Kak Via, nadanya meyakinkan.
“Sore ya, Kak. Nanti kabarin gue kalau jadi,” jawab Dafin sambil
tertawa kecil, berusaha terlihat santai padahal di dalam dadanya sesuatu baru saja menyala.
Obrolan mereka berakhir di situ. Dafin dan Kak Dani kembali pulang.
Beberapa jam berlalu. Sore mulai merambat, tapi tidak ada kabar dari Kak Via. Dafin menunggu sambil pura-pura tidak menunggu. sesekali ja melirik ponsel, meletakkannya kembali, melirik lagi. Hingga akhirnya ia menyerah pada rasa penasaran dan mengetik duluan.
“Kak, jadi gak ya kira-kira makan mie ayam nya?”
Ia menunggu. Matahari perlahan turun ke barat. Balasan itu baru datang ketika langit sudah mulai kemerahan.
*”Ehh Dafin, maaf banget, kayanya gak jadi nih. Gue sibuk banget ngurusin acara buat nanti malam.”*
Dafin menatap pesan itu beberapa detik.
*”Ohh iya, Kak Via. Gapapa kok.”*
Ia meletakkan ponsel, lalu bangkit menuju kamar mandi. Ada kekecewaan yang ia coba bilas bersama air, tapi tidak sepenuhnya berhasil.
Malam itu, seluruh peserta dan panitia berkumpul di satu titik untuk *political gathering* sebagai rangkaian acara penutup. Satu per satu kelompok menampilkan pertunjukan mereka. unik, hidup, penuh warna dan Sorak sorai memenuhi udara malam desa yang biasanya sunyi.
Tapi Dafin hanya berdiri di pinggir keramaian, pikirannya masih tersangkut di sore tadi.
Kemudian seseorang berbisik di telinganya.
“Abis ini lo foto sama Via, ya.”
Dafin menoleh. Kak Mita. Dengan senyum yang sudah ia kenali sebagai senyum yang tidak pernah membawa kabar biasa-biasa saja.
Belum sempat ia menjawab, Kak Mita sudah berbisik lagi, kali ini lebih pelan.
“Via itu sebenernya naksir lo. Tapi dia malu-malu. Ini gue cuma nyampein apa yang dia sampein.”
Dafin tertawa kecil- bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Di dalam kepalanya, satu pertanyaan muncul tanpa ia undang.
Apa ini jawaban dari Tuhan?
Ia sendiri tidak yakin. Ia jarang sekali beribadah. Rasanya tidak adil kalau tiba-tiba langit berbaik hati padanya seperti ini.
Tapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Kak Mita sudah kembali- kali ini dengan Kak Via di sisinya.
“Sini, foto lo berdua.”
Tidak ada yang bisa Dafin lakukan selain menurut. Mereka berdiri berdampingan di hadapan seluruh peserta dan panitia. Celetukan-celetukan mulai berdatangan- ada yang membuli, ada yang salah tingkah sendiri, ada yang tertawa. Dafin tidak mendengar semuanya dengan jelas.
Yang ia tahu hanya satu hal: untuk beberapa detik itu, ia dan Kak Via berdiri berdampingan, sama-sama tersenyum, seolah seluruh ruang di sekitar mereka diam-diam memberikan restu.
Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka berdua. Tidak perlu.
Acara berlanjut. Semua orang menari dan bernyanyi, melepas penat yang sudah menumpuk selama sepekan. Dafin ikut larut, tapi sebagian pikirannya terus melayang ke tempat lain.
Pukul satu dini hari, para peserta dan sebagian panitia mulai berjalan meninggalkan lokasi. Besok mereka akan pulang, dengan satu pemberhentian terakhir di pantai sebelum kembali ke kota.
Dafin melangkah dalam keheningan malam desa, di bawah langit yang penuh bintang. Sesuatu di dalam dadanya terasa berbeda dari tujuh hari yang lalu- lebih penuh, sekaligus lebih rumit.
Dan ia belum tahu harus berbuat apa dengan semua itu.