Sastra

KE MANA AGAMA DAN TRADISI FAJAR?

I.

“Anak tak bermoral, manusia tak tahu diri, sudah miskin maling kalian!”
hardik Pak Parjo sambil menarik kerah kaos Ahmad yang lusuh. Di sampingnya, Fajar kakaknya, hanya bisa menunduk ketakutan melihat adiknya diperlakukan kasar oleh Pak Parjo, seorang pemangku masjid dan juga guru ngaji mereka.
“ini harus disiarkan ke penjuru kampung, biar orang-orang tahu, kalian maling kotak amal masjid!” sambung Pak Parjo dengan nada tinggi, semakin membuat tubuh Fajar dan Ahmad mengkerut.
“Ampun, Pak. Ampuni kami, ampun” air mata Ahmad tumpah sambil memohon-mohon penuh rasa takut.
Dengan cepat orang-orang mulai berduyun-duyun ke masjid, selain mereka akan melaksanakan kebiasaan sholat Dzuhur, banyak dari mereka datang karena mendengar suara Pak Parjo menggelegar melalui speaker masjid, penuh rasa penasaran orang-orang ingin melihat langsung kejadian di teras masjid siang ini. Mereka mulai berbisik satu sama lain, menyebut-nyebut nama Ahmad dan Fajar. Dua laki-laki saudara kandung yang lahir dari rahim seorang ibu penjual gorengan keliling.

    Di tengah ramai riuh orang-orang, Pak Parjo menyela dengan mengangkat tangan kanannya, sedang tangan kirinya masih kencang menggenggam kerah kaos putih milik Ahmad, seraya berdiri dengan suara lantang, sekaligus senyum yang melebar bangga
“Mohon perhatiannya semuanya, jadi begini Bapak-bapak Ibu-ibu, dan semua yang ada di sini. Tadi setelah saya selesai melaksanakan sholat Dhuha 12 rakat, saya menangkap kedua anak ini akan mencuri uang dari kotak amal di masjid kita!”.
Suara orang-orang semakin riuh begitu mendengar penjelasan Pak Parjo, Pak Parjo melanjutkan ucapannya
“kita harus menghukum dengan keras maling yang telah mengancam ketenangan kampung kita, lebih-lebih yang dicuri adalah, uang hasil dari amal kita semua demi kemakmuran masjid ini!” tandas Pak Parjo, yang disusul respon menghakimi dari orang-orang yang semakin lama semakin banyak berdatangan: ada yang mengangkat alis, mengerutkan kening, menggeleng-gelengkan kepala dengan geram, tak sedikit dari mereka memerah mukanya sambil mulai berteriak.

“Sudah hajar saja”
“Ikat saja di halaman masjid!”
“Jangan kasih ampun!”
“Hajar!”
“Habisi mereka!”

Teriakan mereka bersahutan memenuhi halaman masjid, saling tumpang tindih. Namun suara-suara itu perlahan mengecil dan menjauh, hingga akhirnya hilang dari sepasang telinga Ahmad, lalu seluruhnya menggelap.

II.

Sementara di atas kursi, wajah Fajar masih terus menunduk sesenggukan, tak mampu bicara satu kata pun. “Fa … Faja … Fajar kamu harus bicara, jangan terus-terusan menangis, Nak. Ayo Fajar bicaralah, mereka tidak akan menyakitimu, mereka menunggu penjelasan dari kalian, kenapa kalian mencuri kotak amal masjid?” tanya suara serak, sembari menahan tangis yang semakin lama semakin jelas di kedua telinga Ahmad, suara seorang wanita yang lambat laun semakin menyadarkannya. Dari atas karpet tempat tubuh Ahmad tergeletak, kedua mata Ahmad mulai jelas menangkap wajah orang-orang di dalam ruang tamu ini, hidungnya menghirup tajam aroma balsam, dengan keadaan kedua kaki dan tangannya masih menyisakan sisa keringat dingin.
“Ini Ahmad sudah siuman” suara Mas Supri memecah fokus orang-orang di ruangan ini yang sedari tadi mencoba mengintrogasi Fajar, meski begitu Fajar tak kunjung punya keberanian untuk membuka bibirnya. Menyadari suara Mas Supri, dengan bergegas Mbok Poniem mendekati Ahmad yang masih lemas di atas karpet.
“Kamu tak apa-apa, Nak? ini diminum dulu, biar badanmu kembali membaik” kata Mbok Poniem sembari tangannya meminumkan segelas jahe hangat bercampur madu ke bibir Ahmad, yang kepalanya sudah dalam pangkuannya.
“bagaimana kondisimu, Nak?” lanjut Mbok Poniem sambil menyeka air matanya sendiri.
“Maafkan Ahmad, Bu, Ahmad sudah bikin malu Ibu” suara Ahmad sesenggukan, lantas menenggelamkan wajahnya di atas pangkuan ibunya demi menyembunyikan derai matanya.
Merasakan anaknya menangis dalam pangkuan, nalurinya sebagai seorang ibu menuntun jari jemarinya mengelus kepala putra bungsunya dengan penuh kelembutan. Dalam batinnya pertanyaan begitu bising, beradu dengan deru dada yang semakin menderap kencang, rintih hatinya nyaring tertahan di tenggorokan.
“Ya Alloh apa yang sedang Engkau inginkan dari hidup kami?” pedih semakin meruncing dalam rongga dadanya, sayatan-sayatan itu nyata rasanya, berkelindan menanti nasib kedua anaknya diadili dalam rumah penghakiman: rumah Pak Parjo. Hukuman apa yang akan mereka terima, setelah melakukan pencurian uang kotak amal masjid. Uang yang setiap Jum’at sore selalu diberitakan mendapatkan kas mingguan lebih dari sepuluh juta, jumlah yang tak bisa dibilang sedikit untuk takaran sebuah kampung. “Ya Alloh!” tangis Mbok Poniem pecah.

“Hei kamu malah nangis, ini bagaimana selanjutnya, kedua anakmu tertangkap basah telah maling uang amal, kamu tahu, bahwa itu sebuah dosa besar, dasar orang miskin tak tahu diri!” suaranya keras diikuti dengan jari yang menuding-nuding, amarah Pak Parjo merobek perasaan Mbok Poniem.
“Sebentar, Pak, sabar dulu. Kita semestinya menunggu keterangan dari kedua anak ini, apa yang menjadi alasan mereka mencuri uang kotak amal” Mas Supri mencoba menenangkan Pak Parjo.
“Jangan mengajariku kesabaran, tahu apa kamu, anak kemarin sore!” Pak Parjo makin naik pitam.
“Bukan begitu maksud saya, Pak. Walau pun mereka salah tapi kita tak bisa serta-merta bertindak kasar pada mereka. Demi keadilan, berikan mereka kesempatan untuk menjelaskan semuanya” tak putus asa Mas Supri mencoba meredam emosi Pak Parjo.
“Ah, sudah jelas-jelas saya memergoki mereka, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, mereka itu maling!” Pak Parjo masih kekeh dengan pendiriannya.
“Iya benar, Pak. Saya tak membantah itu, tapi dalam aturan bermasyarakat, kita semestinya hati-hati mengambil keputusan, terlebih lagi dalam urusan seperti ini” sambung Mas Supri mencoba bersikap bijak.
“Lalu apa lagi? bukti sudah jelas, saya juga menyaksikan langsung kejadiannya, sudah langsung hukum saja. Semuanya sudah jelas, kok!” Pak Parjo masih dengan keras hatinya tak mau mengalah dari Mas Supri. “Begini Pak Parjo” Mbah Heru menyela Pak Parjo dengan tenang
“maaf sebelumnya, sambil menunggu Fajar juga Ahmad siap bicara, lebih baik kita tenang dulu, kurang bijak rasanya kalau mengambil keputusan dalam keadaan marah, mending sekarang Pak Parjo duduk dulu, kita semua duduk, kita bicarakan baik-baik. Mau bagaimana pun kita semua masih satu kampung, begitu juga Fajar, Ahmad dan ibunya, mereka juga warga kampung ini. Tak ada hati rasanya kalau mengadili mereka tanpa melakukan pertimbangan yang matang” Mbah Heru penuh ketenangan membuat semua orang yang ada di ruangan ini terduduk tak terkecuali Pak Parjo.

Sebelum Mbah Heru sempat melanjutkan omongannya, sehabis menyeruput kopi Pak Parjo menyampaikan kembali pendapatnya
“Mbah, Sampeyan ‘kan tahu kalau mencuri itu perbuatan tak baik, di mata agama itu jelas berdosa, begitu juga dalam kehidupan sosial, jelas-jelas itu melanggar norma, kita semua tahu itu, bukan!?”
Pak Parjo mencoba mencari dukungan pada semua orang yang ada di ruangan ini.
“Benar, saya sepakat dengan yang Pak Parjo utarakan, memang mencuri tidak bisa dibenarkan dalam agama maupun norma sosial, karena akan ada pihak yang dirugikan. Namun, yang perlu kita lakukan sekarang adalah, mencari tahu kenapa Ahmad dan Fajar bisa melakukan itu? sedang kita semua tahu, bahwa mereka berdua tak pernah melakukan itu sebelumnya, supaya nanti apa pun keputusannya dalam menyikapi kejadian ini adalah sebuah keadilan” lalu Mbah Heru membakar rokoknya. Belum sempat Mbah Heru melanjutkan, Mas Supri menambahkan
“Yang dibilang Mbah Heru tepat, kita harus mencari tahu alasan mereka, agar keputusan kita presisi, jangan sampai kita menyesal nantinya. Karena bisa jadi, keputusan kita hari ini akan menjadi tolak ukur bagi masyarakat di kemudian hari. Jika tidak adil hari ini, maka akan melahirkan ketidakadilan juga di hari esok” Mas Supri menyampaikan argumennya penuh percaya diri.
“Halah, kamu … Pri … Supri, jangan sok bijak kamu, kamu saja kerjaannya cuma ngopa-ngopi di pinggir jalan dengan teman-temanmu yang tak jelas itu” Pak Parjo membalas Mas Supri dengan gestur yang meremehkan, sementara Mas Supri hanya merespon dengan senyuman tenang.

    Di tengah perdebatan Pak Parjo dengan Mas Supri, dengan perlahan Ahmad beranjak dari lantai tempat dia pingsan tadi, mendekati Fajar kakaknya lalu memeluknya.
“Mas, Mas Fajar, ayo bicara, kita harus jelaskan pada semuanya, kasihan Ibu kalau Mas Fajar terus-terusan diam” perlahan Fajar mulai mengangkat kepalanya, matanya merah, sembab dan bengkak.
“Nak, bicaralah, kenapa kalian melakukan perbuatan itu, apa yang ada dalam pikiran kalian? jangan membuat Ibu semakin sedih, Nak. Biar semuanya jelas” Mbok Poniem dengan tegas namun lembut mendorong keberanian Fajar agar memberikan keterangan.
“Ibumu benar, Nak. Jelaskan pada kami semua, selama ini kami mengenal kalian adalah anak yang tak pernah neko-neko, hal apa yang menjadi alasan kalian, kenapa nekat mencuri uang kotak amal?” sambil sibuk menghisap rokoknya Mbah Heru mencoba meyakinkan Fajar.
“Atau kalau Fajar tak mau bicara juga, kamu saja yang bicara, Mad … Ahmad!” Pak Parjo tak sabar menunggu mereka. Ahmad yang masih mencoba sadar sepenuhnya, terkejut mendengar suara keras Pak Parjo.
“Sa … saa … ya … saya hanya diajak Mas Fajar, Pak. Saya tak tahu alasannya” dengan ketakutan Ahmad mencoba menjawab bentakan Pak Parjo.
“Alasan saja kamu, mana mungkin kamu tak tahu tujuannya, orang kamu juga ikut, mau playing victim kamu!. Jangan percaya mereka, Mbah, ini sudah indikasi kerusakan mental mereka, jelas-jelas salah masih menutupi, lalu dengan banyak alasan nanti mereka akan minta belas kasihan seakan-akan mereka yang benar, ini jelas tak bisa dibiarkan, Mbah!” Pak Parjo dengan gigih mencoba mempengaruhi Mbah Heru.
Mbah Heru dan Mas Supri saling beradu pandang sambil sesekali menatap Ahmad dan Fajar, seakan-akan pikiran mereka sedang masuk ke dalam ruang dialog merenungi semua kejadian siang tadi, setelah menghembuskan beberapa kali asap rokok dari bibir yang sudah kehilangan sedikit giginya, Mbah Heru mendekati Mbok Poniem lalu berkata
“Karena Fajar tak kunjung mau bicara, bagaimana kalau kita memanggil polisi saja, Mbok? sebab kejadian ini harus segera menemukan titik terang”. Telinga Mbok Poniem langsung memerah, darahnya mengeras di balik kuning kulit wajahnya, ketakutan menjalar cepat memenuhi seluruh pembuluh tubuh, dirinya bergetar menahan dadanya yang hampir meledak.
“Tunggu, Mbah” Mas Supri dengan cepat menanggapi usulan Mbah Heru sebelum Pak Parjo sempat menyetujuinya,
“Maaf, Mbah Heru dan Pak Parjo atas kelancangan saya, mereka ini masih di bawah umur, mereka juga baru kali ini melakukan kesalahan seperti ini, saya bukannya membenarkan perbuatan mereka, namun apa tak sebaiknya kita jangan gegabah, karena saya curiga mereka ada alasan yang kuat, beri kesempatan pada mereka … ” belum selesai Mas Supri mengutarakan pendapatnya, tiba-tiba Fajar membuka mulutnya. Dengan semua keberanian yang dikumpulkannya Fajar mulai berbicara
“Ma … maaa … maaf semuanya, Pak Parjo, Mbah Heru, Mas Supri, Ibu maafkan Fajar, Bu” suaranya berat seakan-akan ada batu keras bersarang di tenggorokannya. Fajar mencoba melanjutkan
“memang benar adikku Ahmad tak tahu apa-apa tentang semua ini, dia hanya saya minta menemani dan membantu nantinya, tanpa saya beritahu terlebih dahulu, semua ini salah saya, jangan libatkan Ahmad dalam hal ini. Jika nanti perlu dihukum, hukum saja saya, karena ini perbuatan yang saya pikirkan sendiri dari semalam. Saya terbebani oleh keadaan ekonomi keluarga kami, setelah tiga hari bapak kami meninggal, saya kebingungan”.
Dengan penuh perhatian, semua orang dalam ruangan ini terfokus pada apa yang sedang Fajar sampaikan, termasuk Pak Parjo dengan seluruh amarahnya, namun hal tersebut tak membuat Fajar berhenti menjelaskan.

III.

    Di teras rumah berlampu redup kekuningan, banyak orang sedang berpamitan keluar dari ambang pintu tempat Ahmad dan Fajar menyalami mereka semua. Mereka keluar dalam kondisi perut kenyang sehabis melahap berbagai macam jamuan; dari cemilan, minuman, hingga makanan berat. Sekitar dua puluh limaan orang yang berisi tetangga dan juga kerabat dari kampung sebelah meninggalkan rumah Mbok Poniem, sementara Mbok Poniem berdiri tak jauh dari anak-anaknya, matanya memperhatikan satu persatu orang-orang yang menghilang ke dalam temaramnya malam, sambil memasang senyum tipis di bibirnya, senyum yang dengan susah payah dirakit dari reruntuhan perasaan, setelah ditinggal wafat suaminya yang hampir lima belas tahun menemani. Di kampung ini, sudah menjadi tradisi turun-temurun. Ketika ada orang yang baru meninggal dunia, tetangga kanan-kiri dan beberapa kerabat berdatangan ke rumah duka untuk mendoakan arwah mendiang. Hingga nanti pada ujungnya di malam ke tujuh, setiap orang yang datang akan diberi bingkisan. Biasanya berisi beras setengah kilogram, mie instan dua bungkus, telor ayam dua butir, gula pasir seperempat kilogram, satu kemasan gelas minyak sayur, kecap manis kemasan kecil, satu bungkus teh tubruk dan sedikit kerupuk mentah.
“Kita harus mencari ke mana lagi, Nak? Ibu sudah mencoba meminjam ke sana ke mari, namun mereka tidak sanggup membantu, sedang ini baru malam ke tiga, masih ada empat malam lagi untuk menjamu orang-orang yang mendoakan mendiang bapak, tabungan Ibu sama Bapak sudah ludes untuk proses pemakaman kemarin, dan juga memenuhi jamuan acara mengirim doa sampai malam ini” sambil merapihkan isi rumah Mbok Poniem mencoba berbagi beban hatinya kepada anak tertuanya. Sebuah beban seorang janda yang tak sanggup disembunyikan ke dalam senyumnya yang berat. Hal itu membuat Fajar seketika menghentikan tangannya yang sedang melipat tikar dari anyaman pandan milik mereka, lalu termenung. Kemudian Fajar melanjutkan lagi merapihkan tikar sambil berujar
“Nanti coba Fajar bantu iya, Bu. Fajar pikirkan dulu jalan keluarnya, semoga ada” percakapan mereka tak didengar oleh Ahmad yang sedang sibuk di belakang mencuci perabotan sehabis digunakan acara Tiga Harian bapaknya.

    Masih dalam kondisi lelah setelah adik dan ibunya masuk kamar, Fajar melamun sendirian di ruang tamu, wajahnya tenggelam ke dalam pikiran yang terus mencari jalan keluar atas beban batin ibunya. Himpitan ekonomi yang bertahun-tahun mencekik keluarganya, karena hal itu pula yang nyaris membuat dirinya dan Ahmad tak bisa melanjutkan sekolah. Sekarang ditambah dengan bapaknya meninggal dunia, tanpa meninggalkan apa pun yang bisa membantu ekonomi keluarga. Sebuah beban terlampau berat harus dipikul oleh anak yang belum genap tiga belas tahun usianya. Semakin lama Fajar melamun, semakin tenggelam dia ke dalam pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
“Mengaji sudah? sholat sudah? membantu orang tua pun selalu dikerjakan penuh semangat, sikapku di lingkungan juga tak berbeda dengan anak-anak kebanyakan? namun kenapa, dalam kondisi seperti ini serasa dunia runtuh dan hidup tak berpihak padaku” pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan dalam kepalanya, seolah-olah ingin keluar melalui kedua lubang telinganya. Ruang dalam kepalanya semakin menyempit, hingga akhirnya Fajar memutuskan untuk pergi keluar dengan niat mencari suasana segar. Malam belum begitu larut, namun untuk kampung seperti ini, tak banyak orang yang keluar kalau sudah di atas pukul sembilan malam, terlebih anak seusia Fajar. Langkah kecilnya membawa Fajar ke halaman masjid, tempat dia bermain sepakbola bersama teman-temannya ketika menunggu bel mengaji sore selepas sholat Asar berjama’ah. Pandangan kosongnya menembus temaram kampungnya, mata beningnya berkabut serupa jalan-jalan sunyi malam ini, hingga seketika matanya terpaku pada satu kotak kayu di teras masjid, kotak berukuran enam puluh sentimeter persegi: sebuah kotak berisi harapan orang-orang dermawan supaya kelak mendapatkan surga di akhirat.
“Harapan? harapannya siapa? kenapa orang-orang dermawan hanya memikirkan kemakmuran dirinya sendiri, baik saat hidup maupun setelah mati, kenapa kemakmuran itu tak bisa membantu keluargaku?” entah datang dari mana pertanyaan-pertanyaan itu merasuk ke dalam kepala Fajar. Pertanyaan-pertanyaan yang terus membuntuti langkahnya menuju rumah.

    Setelah memakan masakan sisa semalam yang telah dihangatkan, Ahmad menyusul kakaknya ke sumur yang telah lebih dulu mencuci piring di sana, sedang ibunya sudah berpamitan pada mereka saat makan tadi, menyambangi temannya di kampung sebelah katanya. Melihat kakaknya masih sibuk di sumur, Ahmad segera membantu menimba air yang diperlukan mereka. Sambil menggosok-gosok piring kotor, Fajar mulai membuka obrolan
“Dek, kebetulan ‘kan ini hari Minggu, biasanya ‘kan kamu main bareng teman-temanmu, bagaimana kalau hari ini saja mamas minta kamu jangan main dulu, sebelum Dzuhur nanti temani mamas?” sambil menuangkan air ke dalam ember besar Ahmad bertanya
“Ke mana ma … s?” belum selesai Ahmad bertanya, Fajar sudah terlebih dulu menimpalinya
“Nanti ada kok, Dek. Yang penting jangan bilang-bilang Ibu, kamu ikut saja” mendengar kakaknya menimpali, Ahmad mengangguk saja tanda setuju.
Matahari siang ini sangat terik, sehingga sinarnya memantulkan bayangan dua tubuh kecil ke tanah lembab di pekarangan samping masjid, angin berlarian kecil-kecil di dedaunan juga rumput-rumput sekitarnya, mengusapkan rasa sejuk pada kulit yang disinggahinya, putih lantai yang tenang menguatkan suasana teduh di teras masjid siang ini. Jari-jari kaki Fajar mulai mendingin begitu menyentuh lantai teras masjid. Suasana begitu asri, hanya sayup-sayup terdengar suara perkampungan dari jauh. Namun tidak dengan tubuh Fajar, tubuhnya dipenuhi perasaan aneh yang baru dirasakannya, dari telapak kakinya keluar butiran-butiran keringat dingin, dadanya berdebar begitu luar biasa. Di tangan kanannya membawa sebatang besi seukuran jari manis orang dewasa.
Dalam matanya ketakutan mengintip dari balik retina, Fajar melangkah mengendap-endap diikuti oleh Ahmad yang tak sepenuhnya mengerti, mengapa kakaknya berjalan demikian. Ingin rasanya bertanya, namun lidah Ahmad tak mampu menemukan satu kalimat pun, perasaan asing yang timbul dalam hatinya membekukan lidahnya, perasaan yang tak mereka kenali. Mereka semakin masuk ke dalam teras masjid, Fajar berjalan di depan sementara Ahmad mengikutinya di belakang, langkah mereka menuju kotak kayu di dekat pintu masuk masjid, pintu yang tak tertutup sepenuhnya. Sesampai pada kotak kayu berwarna hijau, tangan kiri Fajar memegang gembok tua pengunci tutup kotak itu. Lalu tangan kanannya gemetar memasukan batang besi yang dibawanya dari rumah ke celah kaitan gembok yang dipegangnya.
“Krek … kreeek … kreeeek” derit batang besi beradu dengan kaitan gembok. Ahmad dengan polosnya bertanya “Mas ma …. Mau maling iya kalian!?” suara keras mengguncang tubuh Fajar dan juga Ahmad, lantang keluar dari mulut sesosok tubuh yang sudah berdiri di belakang mereka. Dengan cepat tangan kiri tubuh tersebut menarik kerah kaos Ahmad, “Ampun, Pak” rengek Ahmad sangat ketakutan.
“Maling kalian iya?!!” gelegar suara Pak Parjo menggetarkan dinding-dinding teras masjid.

IV.

    “Fajar!!!” Mbok Poniem menjerit histeris, tangannya memukul-mukul lantai ruangan ini, memerah matanya, tangisnya pecah membasahi karpet. Emosi tak terkatakan meledak dalam satu nama, Fajar; anaknya yang dikenal pendiam. Semua orang di ruangan ini membisu, hanya Ahmad yang ada di sebelah Mbok Poniem, kepala dan lengannya menempel erat di tubuh panas ibunya, Ahmad pun ikut menangis. Pak Parjo masih dengan keras kepalanya, sedang di wajah Mas Supri perasaan bingung nampak jelas tanpa mampu disembunyikannya, begitu juga Mbah Heru, mereka tak berdaya membuka bibirnya yang terkatup, semuanya diam.
“Kenapa kamu hanya diam saja, coba bujuk Mbok Poniem” Pak Parjo menyuruh Mas Supri dengan suara dingin, yang membuat Mas Supri beranjak dari kursi lalu mendekati Ahmad dan Mbok Poniem yang masih dalam tangis. Diusap-usapnya punggung Mbok Poniem mencoba menenangkan emosinya,
“bujuk bibimu ini agar mau kedua anaknya dilaporkan ke polisi” Pak Parjo melanjutkan ucapannya, yang diikuti kepala Mas Supri menoleh kaget, matanya menatap dalam ke arah Pak Parjo
“Hatimu ke mana, Pak? sungguh tak punya empati sedikit pun, setelah tahu mereka seperti ini masih bisa punya niat melaporkan?” kalimat itu meluncur liar dari bibir Mas Supri. Menyadari Mas Supri terbawa amarah Mbah Heru langsung berdiri mendekatinya “Tenangkan hatimu, Mas. Jangan sampai amarahmu menjadikan namamu tercatat sebagai anak durhaka” katanya sambil menyodorkan sebatang rokok ke Mas Supri.
Fajar masih berdiri kaku di dekat Pak Parjo, tubuhnya dingin membeku menyaksikan pertama kali ibunya sehancur ini, perasaan bersalah menghantam hatinya, kabut semalam di matanya mencair mengucurkan rasa panas ke kulit pipinya, dengan gemetar tangannya menyeka pelan kedua matanya.
“Ibu maafkan Fajar, Bu” suara Fajar kering dalam tenggorokan. Tiba-tiba Mbah Heru mendekati Mbok Poniem dan Ahmad sambil menyuguhkan segelas air putih ke mereka
“Sudah, ini diminum dulu, duduk lah, akan ada jalan keluar nanti, tenangkan hatimu, Mbok” penuh keteduhan Mbah Heru melanjutkan, “setelah mendengar cerita dari Fajar, sekarang kita tahu akar masalahnya, lalu bagaimana selanjutnya?” Mbah Heru bertanya ke Mas Supri. Mas Supri diam sejenak, lalu membakar rokoknya, bersamaan hisapan bibirnya pada batang rokok, pikirannya merenungi semua peristiwa dan kondisi yang baru disadarinya. Hatinya masuk menuju ruang jauh di sana: meraba tradisi warisan kebiasaan, menyelami keimanan, batinnya menimang ketimpangan sosial, ada benturan-benturan halus dalam dirinya.

Lalu dengan penuh ketenangan, rangkaian pertanyaan mengalir dari bibir Mas Supri
“Mbah? … menjamu orang-orang yang mendoakan arwah yang sudah meninggal, itu masuk dalam tradisi atau perintah agama. Jika itu perintah agama, lalu bagaimana dengan keluarga dalam kondisi ekonomi kekurangan, ke mana peran agama, bukan kah agama hadir ke tengah masyarakat sebagai jalan keluar atas permasalahan hidup manusia. Sebab saya melihat ketimpangan di kampung kita ini; kita semua tahu, kalau kas masjid mendapatkan lebih dari sepuluh juta tiap minggunya, tapi di sisi lain, ada Mbok Poniem, yang bahkan tak mampu menyiapkan jamuan, pada orang-orang yang mengirimkan doa untuk mendiang suaminya, bukankah ini sebuah masalah?” pertanyaan-pertanyaan Mas Supri melesat tajam ke dalam dada Pak Parjo, wajahnya padam oleh gusar yang membesar. Lalu Mas Supri melanjutkan pertanyaanya “Jika menjamu orang-orang adalah tradisi, semestinya ada solusi akan hal ini. Jangan karena demi merawat tradisi, namun malah menjauhkan tradisi dari peran sosialnya. Kalau tradisi membebani masyarakatnya, lantas di mana letak kemuliaan tradisi?. Masyarakat kita ini terlalu dermawan untuk dirinya sendiri, namun hatinya buta pada kemiskinan di sampingnya, mengapa seolah-olah agama, dan tradisi tak mampu menemukan keselarasan atas permasalahan manusia. Ini pantas kita renungkan, Mbah.” Mas Supri kembali menghisap rokoknya yang didiamkan terbakar nyaris habis. Kini semua orang dalam ruangan ini dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan Mas Supri yang entah dari mana datangnya.

Kebumen, April 2026.

Like 2
Dislike 0
Shares:
1 Komentar
  • Avatar muhammad rido fandi islami
    muhammad rido fandi islami
    03/08/2026 at 01:01

    mantap…hal yang sering terjadi tanpa banyak orang lain yang sadar akan ini.

    Reply
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *