Sastra

Tersisa

Kutatap kembali cermin itu

Masih persis 20 tahun yang lalu, saat mengganti belah pinggir dengan potongan Emo

Ah, akhirnya kuseduh teh Sariwangi, segar dan hangat, mengingat kalian yang dulu tanpa ikatan darah, dekat bagai kerabat

Kusempatkan melihat kalian satu persatu di gawai cerdas, dan buka grup Chat

Wow…
Rasanya aneh ya, aku lihat Anton dan Rizki yang saling bertukar sapa,
” Abangku respeek yang punya batubara.”
Padahal dahulu saling menyapa pun tidak walau cuma berbeda bangku

Ada Trias yang dulu dipelonco Soni, eh sekarang DPRD, balik menindas dan menyindir si Soni sang pembuli.

Ya, itu bagian yang kulihat seakan menjadi “berkat” Walau konsep itu nampaknya hampir berkarat

Ya, ada yang buat aku hancur berat

Ya, kalian yang dulu begitu erat, seakan sekarang terbatas sekat yang pekat

Padahal hanya tinggal menyapa ” hai Ceng, apa kabar? “

Hmmmm… Apakah dengan menyapa kembali buat hidup kalian terlalu berat

Atau sekedar mengucap salam buat kalian menjadi penat
Atau takut buat rejeki kalian telat?

Hmmm.. Apakah untuk sekedar bernostalgia, kita harus menunjukan Pangkat?

Oh…
Mungkin bagi kalian, kalau hanya mengenang nostalgia yang telah lewat
Akan buat kalian gagal mencapai tempat yang penuh hormat.

Hmmm..
Kali ini aku berharap asumsiku tidak tepat
Berharap ini hasil dari dari akalku yang bantat
Dan otak-ku yang karena marah, jatuh mendadak dekat urat pantat

Mudah-mudahan ini hanya emosiku yang sekelebat.
Bukan karena rasa amarah dan belum dipandang seperti pejabat

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *