Sastra

Rute Terakhir Hijau yang Berlari

Hijau Berlari

Satu setengah jam laju kereta menempuh timur,
Aku melompat pergi dari labirin gelap di kepala.
Lalu kubiarkan mata rekreasi hijau tanpa temperatur,
Menghapus ingatan yang mengembun di jendela.

Sambil menata duduk di kursi kaku yang bosan,
Kumasuki bayangmu sebagai hijau yang berlari.
Sepanjang rel baja membelah perut bukit-bukit,
Halusinasi kita lenyap dalam terowongan pendek.

Hijau yang teduh itu milik siapa,” tanyamu.
“Lalu aku di mana dalam hijau yang kau sebut?”
Pesan singkatmu dari paris mengular jakarta-jogja.

Kumaklumi rindu yang turut berlari di luar,
Yang tiba-tiba menubruk kuat dari belakang,
Saat coupler antar gerbong melumat jarak kita.

***

Rute Terakhir

Bibirmu selalu punya cara untuk memantik
Cahaya kecil di kepalaku yang rawan gelap.
Dan kedipmu yang memanggil tak semata rindu,
Ia lambaian sisa daun jakarta—penghijau mataku.

Ke mana aku pergi memanggul nasib sialan,
Pada tatapmu kukendalikan nalar pikiran.
Ke arah mana aku kembali menata hidup waras,
Hanya padamu tubuhku tinggal dan bermukim.

Di bibirmu yang tak habis cara menyambut,
Benalu lelah di kepala lenyap bersama pelukmu.
“Nasib esok hari tak perlu dipikir,” ucapmu.

Kulepas sepatu beratku di balik pintu,
Dan kau tuang air di gelas sambil tersenyum.
“Terima kasih telah melenyapkan dahagaku.”

2 Juni 2014/2026

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *