Lampu-lampu jalan tengah memancarkan cahaya temaram hangat sejak langit mulai gelap. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di ujung jalan pinggir kota. Malam itu, dua mahluk fana duduk bersama di dalam mobil. Tidak ada musik terdengar hanya ketegangan yang menyelimuti.
”Jadi kamu membeli seorang pelacur untuk dijadikan teman?”
“Jangan menyebut dirimu seperti itu. Kamu adalah kamu. Dan aku hanya ingin memberimu waktu istirahat malam ini.”
Ia yang duduk di kursi penumpang terdiam. Kata-kata itu seperti menembus dinding yang selama ini ia bangun di sekeliling dirinya. Ia terbiasa dengan tatapan yang menilai, dengan kata-kata yang menusuk. Mendengar namanya dipanggil dengan sebutan yang merendahkan. Transaksi yang menuntut tubuh membuatnya menjadi bayangan tanpa wajah. Namun malam ini, ada seseorang yang menolak menyebut dan memandanganya tak berharga. Ada seseorang yang melihat dirinya sebagai manusia, bukan peran yang biasa ia mainkan. Dan ketika ia mengangkat kepalanya untuk menatap mata seorang yang tengah membayarnya, seseorang yang tengah duduk di dalam mobil di belakang setir kemudi, jantungnya yang sedari tadi menderu seketika berpacu dengan tenang. Dari pancaran bola mata itu tidak ada kilauan bengis untuk merasa lebih tinggi, disana hanya ada kejujuran penuh bukan sekedar basa-basi yang mampu menjatuhkanya bertubi-tubi.
Napasnya yang biasa tertahan setiap kali bertemu pelanggannya, malam ini, begitu saja mampu keluar dalam helaan yang melegakan. Sepasang bola mata jelita yang selama ini ia buat dalam tipu daya peran kenakalan, seketika lenyap, begitu saja tergantikan dengan sorot mata lelah dalam kilas ketakutan dengan setumpuk cerita panjang. Malam ini tidak ada permintaan, tidak ada tuntutan. Hanya sebuah ruang aman, sebuah kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri meskipun hanya sebentar.
Di dalam mobil sedan hitam udara tidak sedikit pun membentuk ketegangan. Cahaya temaram semakin memberi ruang ketentraman, suara kendaraan berlalu-lalang yang mampu terdengar melengkapi perasaan nyaman. Dua mahluk fana tidak saling menatap atau memecahkan sunyi dalam usaha memulai percakapan untuk saling memperkenalkan diri. Tidak ada satupun dari mereka yang berusaha mengupas buah untuk mampu di makan dalam kepuasan pelepasan, kelegaan nafsu dunia yang seringkali membabi-buta. Sebab malam ini, dalam riuh komplikasi isi kepala cerita kehidupan masing-masing yang mampu memangkas kewarasan. Dua mahluk fana itu ingin memberi pelajaran pada kenaifan bumi untuk mencipta ruang tanpa gravitasi beru di sekeliling mereka. Agar mampu memancing kejernihan, mengurangi kehampaan. Seorang yang duduk di belakang setir kemudi tidak mencari cinta, tidak mencari pelarian. Dia hanya mencari keheningan bersama sebuah nyawa berharga yang terlalu sering dilupakan. Dan dalam keheningan itu, seorang yang duduk di belakang setir kemudi berharap bisa membuat sebuah nyawa yang duduk di kursi penumpang, disebelahnya, menyadari kembali bahwa dirinya layak untuk dihargai terutama kepada dirinya sendiri.
Di luar jendela, bulan separuh menggantung begitu saja dengan sederhana, menjadi saksi, bahwa bahkan dalam ruang paling sunyi manusia tetap bisa menemukan arti keberadaan.