Sastra

Surat

Kelopak mataku terbuka secara perlahan,
Cahaya terang menusuk kornea mataku dari lampu yang tertuju kepadaku
Aku terbangun, di ruangan sepi, dan hanya aku sendiri.

Senyap, tenang, hanya suara mesin yang selalu berbunyi,
“TTIIIIITTTTT, TIIIIIITTTT, TIIITTTTT” secara perlahan dan terputus – putus,
Diriku terbaring, dangan tangan tertancap jarum yang tersambung selang bening,
Terbayang semua dosa, orang tercinta, dan ajal yang akan tiba!

Rasanya sulit, walaupun hanya satu jari yang ingin bangkit,
Aku hanya ingin tersenyum, tapi aku tidak tau untuk apa aku tersenyum?

Pintu kemudian terbuka secara perlahan
Sosok tak asing memasuki ruangan, dengan senyuman dan hangatnya sapaan,
Bibir manisnya mengucap, “HAII!!!” hanya satu kata, tapi aku suka,

Tangannya yang halus memegang jari – jariku, seperti ada jiwa yang bersatu
Lalu ntah kenapa aku tersenyum setelah itu?
Mulutku terbuka, mengeluarkan beberapa kata
Secara perlahan – lahan dengan menahan sakit yang ada,
Kusampaikan kepadanya, dunia memang sementara,
Tapi cinta nyata adanya bukan fatamorgana,

Terimakasih telah hadir di kehidupan yang singkat ini,
di sisiku yang tidak sempurna ini, kau selalu tersenyum tanpa pamrih,

Surat ini tertulis oleh mu sendiri, yang kau catat dan simak dari ucapanku yang terbata – bata,
dengan diriku yang melihatmu duduk di kursi sambil menulis diiringi tetesan tangis,

Maafkan diriku, yang merepotkanmu untuk menulis surat ini, yang di tujukan untuk dirimu sendiri.
Aku sampaikan surat ini, untukmu, yang tak pernah berhenti, untuk mengejar mimpi.
Terimakasih, karna telah terus bertahan di dunia ini, walaupun hidup hanya satu senti.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *