Sastra

Sub Chapter 4 – Refleksi Kehidupan

Lagi dan lagi, seperti malam sebelumnya sulit bagiku memejamkan mata.

Namun, ada bagusnya karena aku bisa membagikan ceritaku ke kalian. Oh ya, aku sempat kepikiran sesuatu perihal pembahasan kemarin. Aku sempat membahas tentang salah satu penulis puisi yang nuansanya sedih, dan mereka bilang bahwa puisi berasal dari hati.

Ibarat hati yang berbicara lewat sebuah pena yang dituliskan di atas kertas, dan aku setuju.

Lalu, ada yang bertanya kepada salah satu dari kita, “Apakah ketika kamu menemukan orang yang tepat, kamu akan berhenti berpuisi?” Dan ia menjawab, “Ya.”

Kita pun terdiam, lalu ia lanjut menjelaskan:

“Puisi adalah tumpahan hati. Lalu ketika kita sudah menemukan orang yang tepat, apakah kita masih perlu berpuisi? Mungkin jika ingin menuliskan puisi tentangnya aku bisa, tapi tidak dengan kesedihanku, karena aku sudah merasa bahagia bersamanya.”

Aku merasa setuju dengan pernyataannya, karena ya, benar…

Bagiku sendiri, puisi adalah tempat bercerita. Dan ketika kita sudah menemukan tempat bercerita, jadi untuk apa berpuisi? Atau mungkin, bisa saja kita bercerita tentangnya lewat puisi.

saat ini, aku tidak ingin menulis tentang kesedihan.
Aku hanya ingin menulis bahwa aku pernah sedih, dan kini mulai belajar berdamai dengannya.
Mungkin benar, puisi tak selalu lahir dari luka… kadang, ia tumbuh dari rasa yang akhirnya pulih.

Mungkin begitulah hidup, kadang kita menulis bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk mengingat bahwa kita masih punya suara.
Dan malam ini, aku menulis bukan karena luka, tapi karena rindu akan diriku yang dulu, yang berani merasa tanpa takut kehilangan.

Malam semakin larut. Aku menatap langit-langit kamar yang sama, tapi rasanya berbeda.
Mungkin bukan karena dunia yang berubah, tapi karena aku mulai belajar melihatnya dengan hati yang lebih tenang.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *