Meringis dalam tangis yang bengis, bagai bara rokok yang menyala diam di ujung malam.
Aku seorang anak berjiwa Pancasila, menerima janji dari sang pencipta, hidup dalam lingkup pejabat Indonesia.
Menatap sunyi dalam riuh yang gaduh, bagai ombak memecah karang tanpa suara di ujung samudra.
Aku hanyalah bayang dari jutaan harap, memikul amanah dari tanah pertiwi, berjalan di lorong sejarah bangsa.
Tersenyum dalam hinaan yang getir, bagai lentera redup tanpa cahaya bulan di tengah malam.
Namun aku tetap berdiri dalam luka yang tua, bagai bara kecil yang diam-diam menyala di dada Nusantara.