Sastra

Percakapan Tanpa Suara

Terik matahari dan tebalnya polusi ibu kota mampu mencipta butir-butir peluh. Dipinggir jalan kota besar, di halaman bangunan toko kecil yang telah mangkrak dan hampir rubuh, seorang pria tua duduk mengemper. Pria tua menekukan kedua kakinya, menyandarkan dagunya diatas lutut, dan mengedarkan pandanganya ke sembarang arah dengan kedua bola mata yang memancarkan kekosongan dalam dirinya.

Tatapan pria tua bertemu pandang dengan seorang perempuan belia yang berada di halaman supermarket seberang jalan. Dari kejauhan, perempuan itu tersenyum memberi sapaan dengan gerak tubuh ramah yang hangat. Perempuan itu bergerak dengan santai kembali masuk ke dalam supermarket dan dalam hitungan menit kembali lagi keluar dari supermarket, menghampiri pria tua dengan menenteng dua gelas kopi kaleng di tanganya. Tanpa meredupkan senyuman di bibirnya, perempuan itu menawarkan sebuah kopi kaleng, sebungkus rokok, duduk bersama pria tua, dan memulai percakapan dalam gerakan yang begitu santai serta ceria.

Tanpa memecah suara dan mengeluarkan kata dari mulutnya, pria tua hanya menganggukan kepalanya dan menerima apa yang diberikan perempuan belia. Dengan sedikit keraguan perempuan belia ingin berlama-lama mencoba memangkas kecanggungan dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada pria tua yang hanya kembali dijawab anggukan kepala tanpa sedikitpun bersuara dan mengucapkan kata-kata. Menit demi menit berlalu, dua gelas kopi kaleng, dan dua batang rokok yang kini mengepulkan asap menemani mereka berdua tanpa percakapan. Dari saku kemejanya pria tua mengeluarkan pena dan selembar kertas yang terlipat kemudian mulai menulis. Mengawali percakapan, kecanggungan mereda, pria tua memulai cerita.

Pria tua itu tunawicara, berbekal kartu identitas, sebuah pena, dan beberapa lembar kertas yang selalu ada di sakunya adalah senjata bagi pria tua. Puluhan tahun sudah pria tua telah bercerai dengan istri dan memiliki 4 orang anak yang saat ini telah tumbuh dewasa. Ketika bercerai pria tua serahkan seluruh harta benda kepada istrinya, angkat kaki dari rumah hanya membawa beberapa pakaian dalam ranselnya. Setelah perceraian, pria tua hidup sebagai gelandangan, lontang-lantung di jalanan tanpa memiliki tempat pulang. Akan tetap jika memiliki cukup uang hasil mengumpulkan barang bekas, sesekali, pria tua pasti mengunjungi rumah lama, menjadi tamu dalam beberapa jam, melepas rindu kepada 4 buah hati kecintaannya. Namun suatu waktu pria tua berhenti mengunjungi rumah lama karena rumah itu telah menjadi milik orang lain. Tidak lagi ditinggali oleh mantan istri dan 4 buah hatinya. Bertahun-tahun berlalu pria tua berusaha mencari keberadaan anak-anaknya. Hingga ketika pria tua mampu menemukan mereka untuk melepas serindang rindu, ke 4 buah hatinya, begitu acuh tak acuh menyambut kehadiranya.

Pria tua berhenti mengunjungi mereka. Rela menahan rindu yang selalu menggerogoti perasaanya. Pria tua sangat kecewa dengan perilaku anak-anaknya dan tidak ingin membebani anak-anaknya karena dirinya seorang tunawisma dan tunawicara. Untuk meredakan rindu yang begitu membendung tak cukup mampu ditahanya, pria tua akan menelpon salah satu buah hatinya, satu-satunya nomer telpon yang dimiliki pria tua. Dalam setahun pria tua akan menelepon dengan telepon seluler pinjaman, isyaratnya berbicara adalah bertepuk tangan dan anaknya akan memberitahu bahwa mereka baik-baik saja, tanpa bertanya balik, tanpa menawarkan untuk mengunjungi mereka.

Kedua bola mata pria tua berbinar, garis keriput di wajahnya melengkuk ceria mengikuti pola senyuman ketika perempuan belia meminjamkan telepon seluler. Dengan penuh harap tanpa memutus senyuman pria tua menunggu dengan sabar ketika perempuan belia mengetik nomor telepon. Hingga suara diujung telepon memecah kesunyian, memberi luka mendalam kepada pria tua.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *