Sastra

Belajar Mengeja Nama

Ibumu menyulam huruf-huruf namamu di saku baju,
bermain dongeng dan memanggil-manggilmu
kelak duka-duka di punggung
menggosok seribu ingatan & menelanmu.

Ibumu memesan potret-potret visual,
dan namamu di sana; terpasung seperti
janin dalam rahim—kelak kau
mengusap-usap itu ketika kesedihan
melilitmu di antara doa-doa patah.

Ibumu menekuk huruf-huruf namamu
pada setiap tidur—kau belajar cara
merapal namamu sendiri serupa
mantra-mantra mujur gigil hatimu.

Sebelum cuaca kering mengembus malang
dan kota dalam dadamu dilanda kemarau,
namamu terbuang jauh, menyisakan
bayangan— menuju suatu entah.

— Rahmadani, 2026

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *