Semangkuk kepahitan terpaksa melukai kerongkongan
Setelah gemerlap kerlap kerlip rumah benar-benar padam
Menyisakan puing-puing realitas
Seperti ucapan salam yang tak akan mungkin disambut
Seolah mengintip di daun pintu
Menanti kopi hitam diteguk
Namun menggenang hingga menjamur
Dua dermaga dipupuk
Tuan muda, berusaha menyilaukan ombak di lautan merah
Berpikir bagaimana menjahit simpul yang tumpul
Bermuara pada teka-teki yang akhirnya tersingkap
Melebur ragu yang gosong terpanggang
Serupa curiga yang terbakar cemburu
Menjahit kebohongan satu diikuti mantra asmara
Aku berjalan di pinggir derita, bima sakti hanya berdansa santai
Menembus layar perintah yang berisik,
Dengarkanlah olehmu lagi,
Pelangi tak akan bersajak cantik setelah wangi hujan
Seumpama aku yang berpura-pura menikmati sajian
Pada akhirnya, separuh lantai mengarah ke angka dua dua tiga lima
Kau biarkan dia merangkak
Kilat menusuk tembus ke tulang
Mungkinkah titik berseri koma?
Atau mati terkubur rasa bersalah?