Sastra

ESAI | Di Antara Dua Shift

Ada satu hal yang terus mengganggu pikiran saya belakangan ini. Bukan tentang pekerjaan, bukan tentang pelanggan, bukan pula tentang betapa melelahkannya berdiri berjam-jam di lantai restoran. Yang terus saya pikirkan justru manusia. Semakin lama saya berada di lingkungan yang dipenuhi banyak kepala, banyak karakter, dan banyak kepentingan, semakin saya sadar bahwa manusia jauh lebih rumit daripada pekerjaan itu sendiri. Kita sering mengira bahwa konflik lahir karena perbedaan pendapat, padahal sering kali konflik lahir karena cerita. Dan cerita, di tangan manusia, memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.

Sebagai seseorang yang bekerja di middle shift, saya berada di posisi yang cukup unik. Saya datang ketika satu kelompok masih menjalani harinya dan pulang ketika kelompok lain mulai mengambil alih. Tanpa sengaja saya menjadi saksi dari dua dunia yang berjalan di bawah atap yang sama. Saya mendengar percakapan yang berbeda, melihat cara pandang yang berbeda, dan menyaksikan bagaimana satu peristiwa yang sama dapat memiliki makna yang berbeda tergantung dari siapa yang menceritakannya. Dari posisi itulah saya mulai memahami bahwa kebenaran sering kali tidak hidup di dalam fakta, melainkan di dalam persepsi masing-masing manusia.

Semua yang saya amati berawal dari sebuah keyakinan yang perlahan tumbuh di antara banyak orang. Saya sengaja tidak menyebutnya fakta karena sampai hari ini saya tidak pernah benar-benar melihat bukti yang mampu membuat semuanya menjadi jelas. Yang saya lihat hanyalah sebuah dugaan yang berpindah dari satu percakapan ke percakapan lainnya. Awalnya terdengar seperti kemungkinan. Kemudian berubah menjadi asumsi. Setelah cukup lama beredar, asumsi itu perlahan diterima sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Saya mulai menyadari bahwa manusia memiliki kecenderungan yang aneh: kita sering kali lebih mudah menerima sesuatu yang sering diulang daripada sesuatu yang benar-benar terbukti.

Yang menarik perhatian saya bukanlah isi dari tuduhan tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana manusia meresponsnya. Ada orang-orang yang memiliki alasan emosional untuk mempercayainya, dan itu masih dapat saya pahami. Namun kemudian saya melihat sesuatu yang jauh lebih menarik. Orang-orang yang tidak terlibat langsung mulai memiliki perasaan yang sama. Orang-orang yang tidak melihat kejadiannya mulai memiliki kesimpulan yang sama. Bahkan beberapa orang yang sebenarnya tidak memiliki alasan pribadi untuk membenci seseorang perlahan ikut membawa kebencian yang sama. Saat itulah saya mulai bertanya dalam hati, apakah manusia benar-benar membenci karena pengalaman, atau karena kebutuhan untuk merasa berada di pihak yang sama dengan kelompoknya?

Semakin lama saya mengamati, semakin saya percaya bahwa sebagian besar manusia tidak terlalu takut menjadi salah. Yang lebih kita takuti adalah menjadi berbeda. Ada rasa tidak nyaman ketika kita menjadi satu-satunya orang yang memiliki pandangan lain. Ada ketakutan untuk dianggap tidak setia terhadap kelompok tempat kita diterima. Maka tanpa sadar banyak orang mulai meminjam cara berpikir lingkungan di sekitarnya. Mereka menerima kesimpulan yang sudah jadi. Mereka mengadopsi perasaan yang sebenarnya tidak mereka alami sendiri. Mereka memikul kebencian yang pada awalnya bahkan bukan milik mereka.

Barangkali itulah mengapa prasangka begitu mudah tumbuh. Ia tidak membutuhkan bukti yang kuat. Ia hanya membutuhkan ruang untuk diulang. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang mengingat dari mana semuanya bermula. Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa seseorang memang layak dipandang buruk. Dan ketika manusia sudah sampai pada tahap itu, hampir semua hal akan terlihat sebagai pembenaran. Apa pun yang dilakukan orang tersebut akan dicocokkan dengan cerita yang sudah lebih dulu dipercaya. Jika ia berbicara, ada yang menganggapnya manipulatif. Jika ia diam, ada yang menganggapnya menyembunyikan sesuatu. Pada akhirnya yang diadili bukan lagi tindakannya, melainkan gambaran tentang dirinya yang sudah terlanjur hidup di kepala banyak orang.

Hal yang paling membuat saya berpikir justru ketika orang-orang baru mulai masuk ke lingkungan itu. Mereka datang tanpa mengetahui sejarahnya. Mereka tidak menyaksikan awal mula konflik. Mereka tidak mengenal siapa pun secara mendalam. Namun perlahan mereka belajar siapa yang dianggap baik dan siapa yang dianggap buruk. Bukan dari pengalaman mereka sendiri, melainkan dari cerita yang mereka terima sejak hari pertama. Di situlah saya menyadari bahwa kebencian bisa diwariskan sebagaimana budaya diwariskan. Ia berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa perlu diperintah. Ia hidup di dalam obrolan santai, di sela pekerjaan, di dalam candaan, bahkan di dalam diam yang dibiarkan terlalu lama.

Ada kalanya saya berdiri sendiri ketika restoran sedang tidak terlalu ramai. Melihat orang-orang bekerja, berbicara, tertawa, dan menjalani harinya masing-masing. Dari sana saya sering menyadari sesuatu yang sederhana namun sulit diterima. Sebagian besar dari kita sebenarnya sedang membawa beban yang tidak terlihat oleh orang lain. Kita datang dengan masalah masing-masing. Kita berusaha bertahan dengan cara masing-masing. Namun entah mengapa, di tengah semua perjuangan itu, kita masih memiliki kecenderungan untuk menciptakan musuh bersama. Seolah-olah dengan menemukan seseorang yang dapat disalahkan, hidup menjadi sedikit lebih mudah dipahami.

Mungkin manusia memang selalu membutuhkan cerita. Kita menggunakan cerita untuk menjelaskan dunia yang terlalu rumit untuk dipahami sepenuhnya. Masalahnya, tidak semua cerita membawa kita lebih dekat kepada kebenaran. Sebagian cerita justru membawa kita lebih dekat kepada prasangka. Dan ketika prasangka itu sudah menjadi milik banyak orang, ia menjadi jauh lebih sulit dilawan daripada kebohongan itu sendiri. Sebab kebohongan hanya hidup di dalam kata-kata, sementara prasangka hidup di dalam cara manusia memandang satu sama lain.

Dari semua yang saya lihat di antara dua shift itu, saya tidak menemukan jawaban tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Justru semakin lama saya mengamati, semakin saya merasa bahwa pertanyaan tersebut tidak lagi menarik. Yang jauh lebih menarik adalah melihat bagaimana manusia membangun keyakinannya. Bagaimana kita memilih untuk percaya. Bagaimana kita memilih untuk meragukan. Dan bagaimana sebuah cerita mampu mengubah nasib seseorang tanpa pernah benar-benar diuji kebenarannya.

Mungkin karena itu, setiap kali mendengar banyak orang membicarakan seseorang dengan nada yang sama, saya selalu mencoba menahan diri untuk tidak terburu-buru ikut menyimpulkan. Bukan karena saya lebih bijaksana dari orang lain. Justru karena saya tahu betapa mudahnya manusia terseret oleh arus yang sama. Betapa mudahnya kita mengira bahwa sebuah pandangan adalah milik kita sendiri, padahal sebenarnya hanya gema dari suara-suara yang terlalu lama kita dengar. Dan mungkin, kedewasaan bukanlah tentang selalu mengetahui siapa yang benar. Mungkin kedewasaan adalah keberanian untuk tetap mempertanyakan sesuatu ketika semua orang sudah merasa memiliki jawabannya.

Barangkali itulah ironi terbesar tentang manusia: kita begitu takut dihakimi oleh kebohongan, tetapi sering kali menjadi bagian dari kerumunan yang menghakimi orang lain tanpa kebenaran.

Like 55
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *