Sastra

Banda Neira: Paradoks Pulang

Aku menyelami pulau banda neira
Bersama penyu, ikan dan isi kepala
Sesekali aku terbang ke puncak banda api
Bersama kakaktua raja, burung pala dan keheningan.

Di sini, aku mengasingkan diri
Dan pelan-pelan memaknai perasaan
Dengan jiwa tak utuh dan raga tertatih
Dengan hati lebam-lebam tak kunjung berkesudahan

Bagai penyair hebat berteman dengan aksioma
Senja berbisik, ia merangkul dan menepuk pipi
Menyadarkan segala hal kontra
Perihal lara umat manusia

Bagiku, kau adalah persimpangan yang kaku
Menjerumuskan langkah-langkah untuk aku terjatuh

Bagiku, kau adalah hembusan angin yang ghoib
Memporak-porandakan kehadiran di abad kekosongan.

Lalu kupungut malam seperti risalah yang tercecer,
membacanya perlahan bersama ombak yang tak pernah menghakimi.
Barangkali yang selama ini kucari bukan jalan pulang,
melainkan keberanian untuk tinggal bersama luka tanpa lagi memusuhinya.

Di Banda, waktu menjelma hermeneutika bagi kesunyian,
menafsirkan retak-retak yang tak sanggup dijelaskan bahasa.
Aku belajar bahwa kehilangan bukan antitesis dari cinta,
melainkan premis yang melahirkan manusia menjadi lebih sadar akan dirinya.

Maka kubiarkan laut menyimpan namamu sebagai hipotesis,
sementara angin menguji ingatan yang enggan selesai.
Sebab barangkali yang fana bukan perjumpaan ataupun perpisahan,
melainkan keyakinan bahwa kita pernah benar-benar saling memiliki.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *