Merakit Telinga dari Bola Mata
Lengan kita menjulur & memeluk dari bola mata
Kita jumpai malam itu, matahari yang sudah tiada enggan menyapaku
Pada tubuh-tubuh yang berdecak luka-luka menganga.
Setiap hari kita menulis pada kulit, dan lahir darah;
Untuk sesuatu, mungkin kemekaran bunga di kelopak kita esok hari.
Tanpa menyadari bahwa bahasa ibu telah bersahabat dengan tuhan dan tuhan
Telah melepas telinganya untuk diletakan pada pori-pori kulitku.
•
Malam itu dingin, selimut ini tubuhku yang gemar menyunting luka-luka
tersajak-sajak di tubuhmu itu. perlu kita bertanya pada bulan—apakah hari esok kita
tidak lapar dan masih bisa menyapa burung camar di sebuah media.
•
apakah hari esok benar-benar ada sayangku?
lengan kita menjulur & memeluk dari bola mata
Malam Melaut
Kamu menangis malam itu,
Puisi baru saja keluar dari matamu.
Ia menyelinap sekarang ke hidung
Kau hidu dan sulit menyekanya
Kini batuk berbicara—perihal hari ini.
Kamu menangis malam itu,
Puisi baru saja masuk ke hidungmu.
Seperti ikan dalam rawa di pemakaman
Terlalu tenggelam dalam sebuah jasad
Yang enggan berbicara padanya.
Kamu menangis malam itu,
Puisi baru saja kembali pada tubuhmu.
Pada jantung kita pernah melukai
Bahasa ibu dari tubuh kita sendiri
Menjadi tiang gantung bagi jantung.
Kamu menangis malam itu,
Pastikan tubuhku tak kehabisan puisimu.
Pengingat dan Pelupa
Kita akan saling melupa pada hari ini.
Ruangan mendingin bawa kami pada dongeng sebelum tidur. sebagai rak buku,
Kita boleh saling mengingat dan melupakan.
Meski, keengganan akan tiba pada kita untuk saling
mengingat dan melupakan
•
Matikan ac, sebelum benar-benar aku cuek pada hari-harimu.
Tidakkah perlu untuk kita saling tidak cuek sebab bahasa mana yang paling kita imani arti dan maknanya. Aku enggan merasa dingin—kamu boleh bermain salju.
•
Aku keluar sejenak, dongeng ini jadi dengung
—
Di telingaku yang baru saja mendengar ingatan dan lupakan.
kita perlu saling mengingat tuk hari esok.
Toko Buku dan Mesin Tik
Toko buku itu baru saja mempertemukan manusia dengan manusia dan cerita bertemu pada telinganya.
Di mana letak tinggalnya puisi?
Di sebuah rak dekat mesin tik, di sana dia di lantai dua sebab lantai tiga dan empat berisi pramudya dan gie. Sampingnya komplek sejarah untuk daerah jakarta yang menulis kota penuh kembang api atas ledakan-ledakan kekalahan.
Kalau puisi on the spot di mana?
Jaraknya 5 meter dari rumah puisi di toko buku itu. Dia tidak berada di lantai, atau sebuah apartement bagi buku, atau sebuah kotak cokelat dan tulisan keterangan. Dia telah saja duduk selama enam jam di situ. Dia telah saja mendengar bahasa paling ibu dari manusia yang perlu manusia.
Lalu apa yang bisa kudengar hari ini?
Tanya seorang pengetik yang kerap disebut
Musik virgoun atau sayuti melik