Ada rindu yang beronggok-onggok oleh cinta yang tak pernah balas-membalas
Sesudahnya mereka menjelma aksara dari serpihan luka menunggu kepulangan
Hening mana yang membuat gelisah? Cinta seperti apa yang membuat asing?
Kau dimabuk asmara menganggap pertemuan adalah obat
Menulis surat nubuat Padahal kau lah hakekat obat itu sendiri
Itu sebabnya bahwa patah hati abadi
Kita terlalu lama memelihara lara
Lagi-lagi, cinta yang disalahkan atas nama ketidakterimaan.
Barangkali yang retak bukan cinta,
melainkan tafsir yang terlalu lama kita sucikan.
Kita membaca sesama seperti kitab yang selesai,
padahal manusia selalu menulis dirinya
di halaman yang tak pernah benar-benar usai.
Maka pulang bukan perkara kembali,
melainkan keberanian mengakui yang fana.
Sebab setiap kehilangan adalah dialektika menuju diri,
dan setiap perpisahan hanyalah cara waktu
mengajari jiwa bahwa menerima lebih sunyi daripada mencintai.