Sastra

Melihatmu

Aku Melihatmu
Aku melihat luka
yang kau bungkus rapi
dan kau hiasi dengan tawa itu.

Aku melihatmu berjalan di dalam bimbang.
Walau perlahan, kau tetap tenang.
Tetap melangkah,
Meski sebenarnya kau lelah.

Aku melihatmu.

Bagaimana kau menjaga orang lain,
Sementara kamu sendiri
Tak pernah benar-benar yakin
Ada yang menjagamu.

Aku tahu seberapa sering
Kau mengambil peran sebagai orang jahat
Hanya agar orang lain
Tetap terlihat baik.

Lucunya,
Kau sering berkata kepada orang lain
Untuk lebih dulu baik pada dirinya sendiri
Sebelum memikirkan orang lain.

Sementara kamu?

Selalu memikirkan orang lain lebih dulu.

Tak perlu membantah.
Aku tak membutuhkan itu.
Bahkan aku tak ingin tahu alasanmu.

Yang jelas, aku tahu.
Aku melihatmu.

Aku tahu kekurangan-kekurangan
yang kau lebih-lebihkan
Seolah semuanya adalah kesalahan.

Aku juga tahu kelebihan-kelebihan
yang justru kau anggap biasa,
Seolah tak ada yang istimewa darimu.

Aku melihatmu.

Mungkin justru
Kau yang tak pernah benar-benar melihat dirimu sendiri.

Tenang.

Aku tak menuntutmu untuk berubah.
Bagaimanapun,
Ini caramu menjalani hidup.

dan aku melihat itu.

Tapi jika boleh,
izinkan aku tetap melihatmu.

Walau dari jarak
Yang berada di luar jangkauanmu,
Agar keberadaanku
Tak pernah menjadi gangguan.

Izinkan aku menjadi saksi,
Ketika perjalanan terjalmu
Akhirnya menemukan jalan yang lebih riang.

Izinkan aku menjadi orang asing
Yang diam-diam ikut tersenyum
Ketika cerita-ceritamu
Akhirnya menemukan akhir yang baik.

Aku tak harus ada di dalam ceritamu.

Cukup biarkan aku tahu
bahwa kau baik-baik saja.

Karena yang jelas—

Aku selalu melihatmu.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *