(huuu, huuu huuu, huuuuuuuu)
Dua insan yang tak mungkin bersatu
Berbeda alam, berbeda karakter
Begitu pula cara hidup hingga berpikir
Mungkinkah kisah mereka abadi?
Makhluk bersayap yang pintar dan bijaksana
Dan mamalia berkelompok namun menyendiri
Misterius, tidak mengenal lingkungannya
Tidak tahu diri
Mereka sadar dengan perbedaan mereka
“Kita tidak perlu menyebut siapa diri kita,”
Serigala berdeklarasi mulai dari situ
“Di bawah sayapmu, untuk menjadi raja dan ratu.”
Malam itu di hutan pinus yang sunyi
Mereka berdansa dan bernyanyi
Sambil diiringi lagu yang hanya mereka berdua tahu
Saling melolong dan bersiul dengan merdu
(huuu, huuu huuu, huuuuuuuu)
Malam itu sungguh cerah
Bulan bersinar dengan megah
Mata mereka berbinar dari pantulannya
Saling tatap dengan rasa percaya
“Aku akan membuat api di luar angkasa,
agar hingga fajar kita tetap bersama.”
Ironis, tidak mungkin akan terjadi
Namun tetap dilakukan dengan hati
Di bawah naungan bulan sabit yang bersinar
Bersembunyi dan menari, dengan sadar
“Kita lah sang pencuri cahaya bintang.”
Harmoni nyanyian terus berkumandang
Cahaya menjaga mereka dalam gelap
Melalui malam malam yang senyap
Terus bercengkerama hingga waktu berlalu
Bagi serigala dan burung hantu
(huuu, huuu huuu, huuuuuuuu)
———
Tulisan ini diadaptasi dari lagu The SIGIT dengan judul “Owl and Wolf” yang ditulis oleh Farri Icksan dan Rekti Yoewono