Malam datang
dan pikiran-pikiran liar
Merebut tubuh yang telah kehabisan tenaga.
Angan, khayal, dan harap
Saling mencabik dalam kepala,
Sementara bulan hanya diam,
Menguning seperti mata yang terlalu lama terjaga.
Satu demi satu bintang memadamkan dirinya,
Barangkali tak ingin menjadi saksi
Pada perang yang tak pernah selesai.
Aku tergeletak,
Lebih menyerupai bayangan
Daripada manusia.
Awan tipis melintas
Tanpa menoleh.
Ia tak membawa hujan,
Hanya meninggalkan ruang
Agar sepi tumbuh lebih leluasa.
Aku iri kepadanya;
Betapa mudah ia pergi
Tanpa perlu berpamitan
Kepada kenangan.
Malam semakin larut.
Tak ada yang benar-benar tinggal,
Selain napas yang terdengar
Seperti seseorang
Sedang menggali liang untuk dirinya sendiri.
Barangkali memang tak ada lagi
Yang perlu diperjuangkan.
Maka biarkan gelap
Menelan namaku perlahan,
Sebab aku terlalu lelah
Untuk terus berpura-pura
Bahwa esok selalu layak disambut.
Dan jika pagi akhirnya datang,
Barangkali yang bangun
Hanyalah tubuhku.
Sisanya
Telah lama menetap
Di remang malam. . .