Sastra

Inbox Kosong (Pesan dari Dunia Lain) – Chapter 2

“Ting!”

Bunyi ponsel Amara yang menandakan adanya pesan masuk. Amara menekan ujung rokok yang hampir habis ke dalam asbak, menghasilkan suara kecil saat bara api yang memudar menyentuh permukaan kaca. Asap yang tersisa mengambang perlahan di udara, hilang ditelan malam yang semakin pekat. Dengan satu gerakan cepat, ia membuang rokok itu, kemudian merogoh handphone dalam saku celananya.
Ada pesan dari aplikasi anonim yang isinya aneh. Pesan itu berisi titik-titik yang membaris.

“Ah, orang iseng,” pikir Amara yang berjalan masuk ke kamarnya.

Perlahan-lahan, Amara merebahkan tubuhnya yang letih di atas kasur empuk, merasakan kenikmatan saat setiap lekuk tubuhnya menyentuh permukaan yang hangat. Tangan yang semula sibuk, kini terkulai lemas di samping tubuh.
Kedua matanya perlahan menutup, mengusir segala kekusutan pikiran yang menghantui. Amara menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati yang sudah dipenuhi dengan penat. Dalam keheningan malam, suara napasnya menjadi satu-satunya teman. Begitu lambat, begitu tenang, hingga akhirnya ia tenggelam dalam gelapnya malam. Dunia mulai memudar, dan ia terlelap, mengayun perlahan menuju alam mimpi, tempat di mana segala hal yang ada di dunia ini terasa jauh dan tak terjangkau.

Pagi datang tanpa suara. Alarm ponselnya berbunyi nyaris tak terdengar, dan Amara hanya membuka matanya perlahan.
Ada keheningan yang mengelilinginya, yang hampir seperti ruang di dalam dirinya—sunyi, penuh jeda. Ia meraih ponselnya, menekan tombol mati tanpa terburu-buru, lalu memeriksa notifikasi. Pesan misterius semalam masih mengambang di layar notifikasinya, terlihat juga beberapa notifikasi pesan dari kontak yang bernama Bimo, kemudian notifikasi dari aplikasi yang tak berarti bagi Amara, seperti aplikasi cuaca yang memprediksi cuaca hari ini, aplikasi pengingat minum yang tak berdampak apa-apa, dan beberapa notifikasi lain yang Amara abaikan.

Amara kembali menatap langit-langit kamar yang kelam, seolah merenung sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Setelah beberapa detik, ia bangkit dari tempat tidurnya. Tanpa suara, kakinya menyentuh lantai dingin. Tubuhnya bergerak otomatis menuju kamar mandi, seakan pagi itu tak lebih dari rutinitas yang sudah sangat dikenalnya. Tak ada rasa malas, hanya gerak tubuh yang tak terganggu.

Air dingin menyentuh wajahnya, membuatnya terjaga. Cermin di depannya memantulkan wajah yang hampir tak pernah berubah—datar, dengan tatapan yang terkesan jauh. Sesaat, ia menatap dirinya sendiri, seolah mencari jawaban yang tak pernah ditemukan. Lalu, ia kembali mengalirkan air ke wajahnya, menghapus segalanya.

Rapi dan tanpa banyak kata, Amara memilih pakaian dengan mata yang hampir kosong. Sebuah kaos yang sederhana, celana jeans hitam, dan sepatu sneakers yang diam di sudut ruangan. Tak ada pertimbangan lebih dalam. Cukup seperti ini. Ia bergerak cepat, merapikan rambut dengan gesit, memeriksa dompet dan ponselnya, kemudian menutup tas gendong kecil tanpa ekspresi.
Keheningan apartemennya tetap terasa saat ia keluar dari pintu, meninggalkan jejak langkah yang tak meninggalkan suara.

Langit pagi yang muram menyambutnya, dan Amara melangkah keluar, tanpa menoleh sekalipun ke belakang. Ada sesuatu yang dalam dalam setiap geraknya, sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Jembatan penyeberangan orang sudah terlihat di depan mata. Amara tahu, tak perlu terburu-buru. Jarak 500 meter dari apartemennya sudah cukup dekat untuk berjalan tanpa menambah langkah. Ia hanya mengikuti jejak langkah orang-orang yang lain, berjalan di tengah kerumunan yang sibuk, tanpa menarik perhatian.

Namun, ada yang berbeda dengan cara Amara berjalan. Geraknya tenang, terkontrol, seolah ia tidak terhubung dengan dunia di sekitarnya. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun—hanya satu tujuan yang ada di pikirannya: kantor. Seperti sebuah rutinitas yang harus diselesaikan, tanpa ada pertanyaan lebih lanjut.

Langkah demi langkah, suara sepatu beradu dengan aspal yang keras, namun Amara tetap terbenam dalam pikirannya. Tak ada yang bisa membacanya—hanya kosong. Ketika ia melewati orang-orang di sekitar, mereka tak tahu apa yang tersembunyi di balik tatapan mata Amara yang terfokus pada jembatan penyebrangan di depannya.
Di atas jembatan penyebrangan, ia berhenti sejenak, melirik ke bawah. Lalu, dengan cepat, ia melanjutkan langkahnya. Semua pemandangan itu seperti gambar buram yang tak bisa memengaruhi dirinya. Wajahnya tetap hampa, namun ada sedikit rasa berat di dadanya, sesuatu yang tak bisa dilihat oleh siapa pun.

Sekilas, langit pagi memantulkan warna merah muda, tapi Amara tidak menghiraukannya. Dengan langkah cepat dan tetap, ia menuruni jembatan, melanjutkan perjalanan menuju kantor yang tak lebih dari sekadar tujuan. Begitu dekat, namun terasa begitu jauh.
Amara melangkah melewati pintu otomatis yang terbuka dengan sendirinya begitu ia mendekat. Kantor tempat ia bekerja adalah salah satu gedung tertinggi di pusat kota, tampak modern dan megah dengan dinding kaca yang memantulkan siluet langit biru. Begitu masuk, udara sejuk dan aroma kopi yang kuat langsung menyambutnya. Lobi kantor luas, dengan lantai marmer hitam yang mengkilap. Pencahayaan halus memberikan kesan futuristik, sedangkan panel-panel kayu yang terpasang di dinding menambah kesan elegan.

Di sekelilingnya, pegawai berjalan cepat menuju lift atau berdiri di area lounge dengan laptop terbuka. Semua sibuk, terjebak dalam dunia mereka sendiri, kecuali Amara. Ia hanya bergerak tanpa memperhatikan keramaian di sekitarnya, seakan tak ada yang menarik perhatian di dunia ini selain pekerjaannya.

Tinggi di atasnya, gedung ini memancarkan kesan sebuah perusahaan IT terbesar di kota — tempat di mana teknologi dan inovasi bertemu dengan ambisi besar. Pintu lift terbuka dengan mulus saat Amara mendekatinya, dan ia melangkah masuk tanpa banyak kata.
Lift ini, seperti seluruh kantor, serba modern. Panel-panel digital terpasang di sisi dinding, menampilkan informasi tentang jadwal rapat, proyek terbaru, dan bahkan berita dunia IT terkini. Terkadang, suara notifikasi singkat terdengar dari ponsel para pegawai yang berdiri di sampingnya, namun Amara tidak tertarik pada apa yang mereka lihat. Ia hanya menatap layar ponselnya, menyusun pikirannya.

Ketika pintu lift terbuka di lantai 35, Amara melangkah keluar dan menuju ruang kerjanya. Gedung ini adalah pusat dari segala teknologi mutakhir, dan setiap sudutnya dirancang untuk menciptakan suasana yang kreatif dan efisien. Meja kerja para pegawai berbaris rapat, sebagian besar dengan komputer desktop dan laptop yang menyala terang, kertas-kertas terbuka yang penuh dengan catatan atau ide, dan ponsel yang selalu berbunyi dengan notifikasi.

Namun, Amara tak terpengaruh oleh semua itu. Ia bergerak lurus ke mejanya di sudut ruangan, memilih untuk duduk tanpa melirik orang-orang di sekitarnya. Seperti biasa, ia mulai menyalakan komputernya dengan cekatan, meraih secangkir kopi yang sudah tersedia di meja, dan langsung tenggelam dalam pekerjaan.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *