Telah tertiup duka kerontang ke rahim ingatanmu,
seperti hitungan-hitungan nasib lama merengek
kelaparan dan tinggalkan kecup basah.
Kau kembali dengar lengkingan tuanya
terkatung-katung pada gendang telinga
meski kau usap sekujur tubuhmu dengan mantra,
“Tuhan, singkirkan duka memerah ini.”
Telah kau sadari geliat nyala bara di jantungmu
ialah replika rusak yang ulang-berulang
menandai malapetaka. Sunyi melipat namamu
menjadi kenangan terbuang dari jantung waktu.
Kau lupa cara mengeja namamu, dan saban hari
memesan kantuk merupa antidepresan,
tetapi duka bermain petak umpet di keningmu.
— Rahmadani, 2026