“Hai, bagaimana kabarmu?”
Aku menulisnya. Menghapusnya. Menulis lagi.
Sampai akhirnya aku sadar—
tidak ada satu pun versi yang akan pernah benar-benar terkirim.
Ada hal-hal yang tidak ditolak orang lain,
karena kita sendiri sudah lebih dulu menyerah mengirimkannya.
Jadi aku diam.
Tapi ini bukan diam yang damai.
Ini diam yang penuh luka yang tidak sempat berbentuk suara.
Aku masih memikirkanmu.
Bukan dengan hangat, tapi dengan cara yang pelan-pelan mengikis.
Seperti sesuatu yang terus menetes di tempat yang sama
sampai tidak lagi terlihat,
tapi tetap bolong.
Lucu ya,
aku masih mendoakanmu
dengan hati yang sudah tidak utuh lagi.
Dan setiap doa itu,
rasanya seperti aku mengkhianati diriku sendiri sedikit demi sedikit.
Aku mulai paham:
rindu tidak selalu datang sebagai perasaan.
Kadang ia datang sebagai hukuman.
Diam. Lama. Tidak bisa dijelaskan.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak menangis.
Ia hanya tinggal
dan mengubah seseorang menjadi versi yang lebih sunyi dari sebelumnya.
Aku tahu diri.
Tapi tahu diri tidak pernah cukup untuk menyelamatkan apa pun.
Jadi aku biarkan kamu tetap di sana,
di kepala yang tidak pernah benar-benar tenang ini,
sebagai sesuatu yang tidak bisa disentuh,
tidak bisa diulang,
dan tidak bisa disembuhkan.
Kalau suatu hari kamu pergi dari ingatan,
mungkin aku sudah lebih dulu habis di dalamnya.