Ada satu hal yang belakangan sering membuat saya berpikir. Bukan tentang bagaimana cara mendapatkan cinta, bukan juga tentang bagaimana rasanya jatuh cinta. Justru sebaliknya, saya mulai bertanya-tanya tentang posisi cinta di tengah kehidupan yang semakin sibuk.
Sejak kecil, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta adalah bagian penting dari hidup. Film, lagu, novel, bahkan cerita orang-orang di sekitar kita sering kali menempatkan cinta sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan. Namun semakin bertambah usia, saya mulai melihat bahwa hidup tidak hanya berisi tentang perasaan. Ada pekerjaan, tanggung jawab, kebutuhan ekonomi, tekanan sosial, dan berbagai hal lain yang menuntut perhatian setiap hari.
Lalu saya bertanya, dimana cinta akan berada ketika semua itu datang?
Pertanyaan ini bukan lahir dari kekecewaan atau pengalaman patah hati. Saya juga tidak sedang mencari seseorang untuk dicintai. Justru karena saya tidak terlalu memikirkan percintaan, saya bisa melihatnya dari jarak yang lebih jauh. Saya melihat banyak orang yang pada masa sekolah memiliki waktu untuk saling mengenal, berbicara berjam-jam, atau sekadar menikmati kebersamaan. Namun setelah memasuki dunia dewasa, waktu menjadi sesuatu yang semakin mahal. Hari-hari dipenuhi pekerjaan. Energi terkuras oleh tuntutan hidup. Bahkan untuk beristirahat pun sering kali terasa kurang.
Di titik itu saya mulai bertanya, apakah cinta benar-benar mampu bertahan menghadapi kenyataan seperti itu?
Banyak orang berkata bahwa cinta adalah tentang komitmen. Saya memahami maksudnya. Namun komitmen sendiri tidak hidup di ruang kosong. Ia hidup di tengah perubahan. Manusia berubah, keadaan berubah, cara pandang berubah, bahkan tujuan hidup seseorang bisa berubah seiring waktu. Seseorang yang hari ini merasa sangat yakin terhadap suatu hubungan belum tentu memiliki keyakinan yang sama beberapa tahun kemudian.
Bukan karena ia jahat atau tidak setia, melainkan karena manusia memang tidak pernah benar-benar diam.
Hal yang membuat saya penasaran bukanlah kemungkinan berakhirnya suatu hubungan, melainkan mengapa manusia tetap percaya pada sesuatu yang tidak memiliki jaminan. Kita tahu bahwa perasaan bisa berubah. Kita tahu bahwa waktu dapat mengubah banyak hal. Kita tahu bahwa tidak ada kepastian dalam hubungan antarmanusia. Namun tetap saja orang-orang memilih untuk mencintai.
Mungkin karena pada dasarnya manusia memang tidak hidup dari kepastian. Kita hidup dari harapan. Kita bekerja tanpa jaminan bahwa semua usaha akan berhasil. Kita bermimpi tanpa jaminan bahwa semua mimpi akan tercapai. Dan mungkin cinta juga berada di tempat yang sama: sesuatu yang dijalani bukan karena pasti berhasil, tetapi karena dianggap layak untuk diperjuangkan.
Meski begitu, pertanyaan saya masih belum terjawab sepenuhnya.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ketika sebagian besar hidup manusia dihabiskan untuk bekerja dan memenuhi berbagai tuntutan, apa yang sebenarnya membuat hubungan tetap bertahan? Apakah cinta memang cukup kuat untuk menghadapi semua perubahan itu? Atau jangan-jangan yang bertahan bukan cintanya, melainkan keputusan dua orang untuk terus memilih satu sama lain meskipun perasaan mereka tidak selalu sama seperti di awal?
Saya tidak memiliki jawabannya.
Tulisan ini mungkin lebih dekat pada kegelisahan daripada kesimpulan. Namun saya rasa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Ada pertanyaan pertanyaan tertentu yang justru membuat kita terus berpikir tentang hidup, tentang waktu, dan tentang hal-hal yang selama ini kita anggap pasti.
Dan mungkin, bagi saya, cinta adalah salah satu pertanyaan itu. Bukan sesuatu yang sedang saya cari, melainkan sesuatu yang sedang saya coba pahami. Karena semakin saya melihat kehidupan, semakin saya menyadari bahwa yang paling sulit dipahami bukanlah bagaimana cara mencintai seseorang, melainkan bagaimana sesuatu yang begitu rapuh bisa tetap dipercaya oleh begitu banyak orang.