Sastra

Mutiara Gugur

Pendar di Sabtu malam yang membiru
Berebut bertukar sayu
Menyusut sejekap mata pilu
Menyisih tanda tanya terlampau
Sangsi menentang realitas
Mutiara itu menggelap
Sirna tanpa aba-aba

Separuh malam lengang
Pikiran bergolak mendesak
Menyusun rekaman kenangan
Sembari meratapi ananda
Jari-jari mungil itu masih berharap disentuh
Dibuai kasih sepanjang masa
Dihantui kesamaran mengekang
Sebab,
Paras ibunya belum jelas terekam
Kau tetap sirna
Menghiraukan segala dahayu

Waktu kecil, kupikir kematian
Berurutan berjejeran
Ibarat angka besar,
Sesudah itu angka kecil
Antri mengambil bagian
Ternyata salah besar
Maut bisa menjamah siapa saja
Sekalipun terjebak tak berjarak dari bisingnya rutinitas

Hai mutiara,
Sosokmu akan lestari
Kekal di setiap bait ingatan
Hanya ragamu yang lenyap
Hanyut direnggut semesta
Kemurahan hatimu akan tetap hidup menetap
dan bertumbuh di palung sanubari terdalam

Menit ke menit
Detik kesia-siaan
Berpacu penuh kecepatan
Sekiranya kita hanya menanti giliran
Untuk kembali kepada pemilik degup

Like 3
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *