Sastra

Tak Kupanggil Lagi

Malu dibuatnya
Bau alkohol dimulutnya
Badan sudah rasanya sakit semua
Lelah mencari rezeki untuk hidup sekeluarga

Laki laki yang kupanggil pahlawanku
Kurasa tak akan lagi setelah ini
Tubuh tampak lunglai
Dibopong memasuki rumah yang isinya aku dan ibu

Tak ada marah atau omelan
Wajah teduhnya menyambut dengan hangat
Tampak seperti bukan yang pertama kali
Langsung mengambil wudhu dan berdoa
Memohon ampun pada Sang Pencipta atas ulah kekasihnya

Ku tanya berulang
“Bu, apakah baik-baik saja”
Dengan air mata yang terus kuseka
“Sudah tidak apa, kuadukan semua pada Sang Pencipta”
Ah rasanya kau sudah kalah malam ini

Tak akan lagi kau berani
Karena lawanmu bukan dunia
Tapi pemilik-Nya
Bahwa yang kau buat luka
Adalah manusia yang senantiasa bertutur doa

Baiknya kau tak kupanggil lagi
Amarah rasa sudah tak terkendali
Tapi tak mampu aku bertindak apa apa lagi
Selain menangis dan memeluk “ibuku”
Sembari ku bertanya lirih
“Tuhan.. Apakah ini pantas kutanggung sendiri?”

Tapi siapakah aku berani bertanya begitu
Bukankah tak pernah ada yang benar-benar berbahagia didunia
Bukankah ini sementara
Ingin rasanya kuadukan semuanya

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *