Malu dibuatnya
Bau alkohol di mulutnya
Badan sudah rasanya sakit semua
Lelah mencari rezeki untuk hidup sekeluarga
Laki-laki yang kupanggil pahlawanku
Kurasa tak akan lagi setelah ini
Tubuh tampak lunglai
Dibopong memasuki rumah yang isinya aku dan ibu
Tak ada marah atau omelan
Wajah teduhnya menyambut dengan hangat
Tampak seperti bukan yang pertama kali
Langsung mengambil wudhu dan berdoa
Memohon ampun pada Sang Pencipta atas ulah kekasihnya
Kutanya berulang
“Bu, apakah baik-baik saja”
Dengan air mata yang terus kuseka
“Sudah tidak apa, kuadukan semua pada Sang Pencipta”
Ah rasanya kau sudah kalah malam ini
Tak akan lagi kau berani
Karena lawanmu bukan dunia
Tapi pemilik-Nya
Bahwa yang kau buat luka adalah manusia yang senantiasa bertutur doa
Baiknya kau tak kupanggil lagi
Amarah rasa sudah tak terkendali
Tapi tak mampu aku bertindak apa-apa lagi
Selain menangis dan memeluk “ibuku”
Sembari kubertanya lirih
“Tuhan.. apakah ini pantas kutanggung sendiri?”
Tapi siapakah aku berani bertanya begitu
Bukankah tak pernah ada yang benar-benar berbahagia di dunia
Bukankah ini sementara
Ingin rasanya kuadukan semuanya