Sastra

Aku dan Aku

Hai, aku yang lain. Kemarilah, duduk di sini. Sudah kuseduhkan secangkir kopi untukmu.
Tak perlu menyembunyikan apa pun malam ini. Aku sudah tahu semuanya.
Aku tahu tentang penyesalan yang masih kau kunjungi diam-diam. Tentang nama yang masih sesekali muncul di kepalamu. Tentang mimpi yang belum tercapai dan ketakutan yang tak pernah kau akui.

Duduklah.
Malam ini kita berbicara layaknya dua orang dewasa. Bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Lagi pula, jika kita adalah orang yang sama, siapa yang akan menang jika salah satu kalah?
Mari bergantian berbicara dan mendengar.
Malam ini biarkan aku menjadi telingamu, dan kau menjadi suaraku.
Mari berjanji untuk tidak saling menghakimi.
Dunia sudah terlalu sering melakukannya,padahal tau apa mereka tentang Kita???

Aneh rasanya. Saat dunia menghakimi kita, kita marah. Namun saat sendirian, kitalah hakim yang paling kejam bagi diri sendiri.
Kita memaafkan orang lain karena mereka tidak tahu isi kepala kita.
Lalu menghukum diri sendiri karena kita tahu semuanya.
Bukankah itu lucu?
Kita meminta pengertian dari dunia, tetapi menolak memberikannya kepada diri sendiri.

Ceritakanlah penyesalanmu.
Aku sudah tahu ceritanya.
Tentang kesempatan yang hilang.
Tentang kata-kata yang tak sempat diucapkan.
Tentang keberanian yang datang terlambat.
Namun tetap ceritakanlah.
Barangkali luka tidak selalu ingin disembuhkan.
Barangkali ia hanya ingin didengar.
Ceritakanlah kesedihanmu.
Aku juga mengenalnya.
Aku ada di sana ketika kau berpura-pura baik-baik saja.
Aku ada di sana ketika kau tertawa lebih keras daripada biasanya agar tak ada yang bertanya kenapa matamu terlihat lelah.
Aku ada di sana ketika kau mengatakan “aku baik-baik saja”, padahal kau berharap seseorang berkata, “tidak apa-apa jika kau tidak baik-baik saja.”

Aneh, bukan?
Kita yang sama-sama terluka justru saling mengobati.
Kita yang sama-sama tersesat justru saling menunjukkan jalan.
Kita yang sama-sama rapuh justru saling mengingatkan untuk tetap kuat.
Mungkin karena tidak ada yang lebih mengenal gelap selain mereka yang pernah tinggal di dalamnya.
Kadang aku ingin memarahimu.
Karena terlalu keras pada diri sendiri.
Karena mengingat kesalahan lebih lama daripada mengingat pencapaian.
Karena menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa kau tak cukup baik.
Namun di saat yang sama, aku juga ingin memelukmu.
Karena aku tahu seberapa keras kau berusaha.
Aku tahu berapa banyak pertarungan yang kau menangkan tanpa tepuk tangan.
Aku tahu berapa kali kau hampir menyerah namun tetap memilih berjalan.
Dan itulah yang paling membingungkan dari hubungan kita.
Aku adalah orang yang paling sering melukaimu.
Namun aku juga satu-satunya yang benar-benar tahu bagaimana cara menyembuhkanmu.

Aku adalah sumber dari sebagian besar ketakutanmu.
Namun aku juga tempat lahirnya seluruh keberanianmu.
Aku adalah alasan kau runtuh.
Namun aku juga alasan kau mampu bangkit.
Jadi jangan mengecilkan dirimu.
Kau tahu sebesar apa kita, meski sering berpura-pura lupa.
Jangan rapuh agar kita utuh.
Bukan karena menjadi kuat itu mudah.
Melainkan karena kita sudah terlalu jauh berjalan untuk berhenti sekarang.
Sebab selama kau dan aku masih mau duduk semeja seperti malam ini, masih mau saling mendengar tanpa saling menghakimi, maka tak ada badai yang benar-benar mampu merobohkan kita.

Karena pada akhirnya, musuh terbesarku bukanlah diriku sendiri.
Dan penyelamat terbesarku juga bukan orang lain.
Keduanya adalah aku.
Dan mungkin, itulah sebabnya aku masih di sini.
Masih mendengarkan.
Masih belajar memahami.
Masih belajar mencintai seseorang yang paling sulit kucintai:
diriku sendiri.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *