Sastra

Tubuh yang Terlalu Hidup untuk Mati

Biarkan saja dekomposisi itu bekerja.
Biarkan luka-luka kehilangan lidahnya,
sebab tak ada lagi gunanya menjilat kaki tuhan demi ampunan.
Di bawah tanah, semua yang lumat menjadi setara;
tanpa ego, tanpa ambisi untuk dikasihani,
hanya onggokan karbon yang akhirnya berhenti mencari arti.

Jika nanti maut adalah sebuah insinerator,
dan api dititahkan sebagai titik terakhir,
semoga lidah apinya tak lebih pedih
daripada sisa-sisa oksigen yang mengkristal di paru-paru
oksigen bajingan yang memaksaku terjaga
saat aku hanya ingin menjadi tiada.

Aku tidak butuh firdausmu yang riuh.
Simpan saja bidadari dan sungai madu itu untuk mereka yang masih haus.
Aku hanya ingin sunyi yang steril;
keheningan yang tidak lagi menyamar menjadi tali rami,
yang tidak lagi menjerat leher dengan pertanyaan-pertanyaan sampah
tentang mengapa aku harus lahir
jika hanya untuk menjadi bangkai yang gagal mengeja bahagia.

Pulangkan aku ke lubang hitam,
di mana cahaya pun tak punya nyali untuk ada.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *