Sastra

Adiku Emosi

Memang ibu-bapak tak sempurna.
Ibu melahirkan, bapak mencari pakan,
tanpa hiraukan apa pun di depan.
Mereka berjuang untuk menjadikan kita orang mapan dan rupawan.

Memang aku pertama dalam kandungan.
Tidak butuh waktu lama, cara berpikir kita tidak sama.
Hal pasti yang tidak karuan untuk adik perempuan.
Aku nakal tepat pada zaman beredar, kamu rajin mengikuti alur.

Aku terjebak dalam pikiran saat aku menjadi bapak,
kamu dapat untung bisa terus dekat ibu-bapak.
Hidup ini bukan soal makan ego sesaat,
sesat kalau aku lihat dari sikap yang tertutup rapat.

Aku coba luruskan semua kondisi, untuk hubungan kita tetap erat.
Perlu diingat, kita lahir bukan dari keluarga ningrat.
Sebisa mungkin aku jadi kakak yang harus bisa mengatasi situasi skakmat hingga kiamat.
Coba kamu minum teh hangat, itu bisa buat hati lebih semangat.
Tahan tatapan tajam leher berurat.
Tarik napas berat jalan perlahan hindari sekat, buka lemari, pilih mukena bersih untuk tutup aurat.
Cari doa hikmat untuk menghilangkan hati yang berkarat.

Pikiranmu sangat kompleks, sedangkan rumah kita sudah tidak berada di komplek.
Cepat keluar, jauhkan layar monitor biar ruang hatimu melek.
Sejahtera pribadi tidak jauh dari dialek kedua orang tua,
stop amarah, kurangi mewek.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *