Jangan Lumpuri dengan Peluru
kami melihat wajah tuamu tersenyum
di tembok-tembok gedung utama
setelah persekutuan tanpa dendam
menutup riwayat panjang kekalahan.
kami mencari senyum wajahmu
yang memantul dari wajah anak sekolah
setelah makan siang dan minum susu
hadiah kemenangan yang tak gratis.
senyum kecil langka di wajah tuamu
jangan kau lumpuri dengan peluru
yang merobek kisahmu di masa lalu.
kami masih menunggumu tersenyum
dengan bahu patriot yang tak reot
walau tanpa susu kotak dan sekotak nasi.
Jakarta, 2025-2026
Di Meja Perjumpaan
betapa anggun bentuk cerita hidupmu
melintasi bagian-bagian hidup yang kutempuh
mencari letak rumah nurani dari buku ke buku
sebab mustahil kutemukan di peta yang rapuh.
kejutan segar selalu muncul di sela percakapan
yang sesekali kita pakai dalam bahasa sehari-hari
atau tiba-tiba kita tertawa lepas di meja perjumpaan
saat teringat kisah cinta yang naif di film amelie.
nyaris telah kuarsip setiap cerita sederhana
dalam manuskrip ngopi dari café ke café
yang meluruhkan seluruh isi kepala.
amati tiap kemelekatan dalam dirimu
seperti kutajamkan senyum pada rasa pahit
yang kental dan utuh melekat dalam diriku
Jakarta, 2025-2026
Template Pendulang Gift
coletehmu ditumbuhi benalu keluh dan aduh
menjalar kuat dengan daun-daun angkuh
di dinding dan pilar-pilar rapuh dunia maya
yang kau rawat dengan kesah membabibuta.
kini celotehmu menjadi template usang
yang kau usung di persimpangan peradaban
sambil merekayasa lemah hidup di aplikasi
pencetak konten pendulang gift sehari-hari.
kini kau mulai sangsi menuruti kemauan era
percikan surga kecil hidangan algoritma
pelan-pelan membuatmu jadi lupa diri.
apakah kau bahagia mendulang gift
dengan template harian yang usang
yang kau sendiri tak menyukainya?
Jakarta, 2025-2026