Masokis Ingatan
Sebab soneta ini tak dicipta dari keheningan meditasi,
Rindu serupa tumor waktu yang membusuk di dada.
Dan pada senja yang mendadak terasa begitu anyir,
Kubongkar paksa rahasia kotor di dasar hidup kita.
Rahasia yang gagal dikunci dalam brankas kepalaku,
Terlahir dari tatapan iseng yang penuh muslihat.
Lalu janji palsu diobral di bawah lampu jalanan,
Laiknya naskah kosong untuk sore yang dipentaskan.
Aku telanjur mencandu luka yang tak lagi rahasia,
Meneriakkan keputusasaan tepat di sisi telingamu.
Persetan, tak boleh ada sisa kebohongan tentangmu!
Kau memang gemar menyiksa, melumpuhkan dayaku,
Lewat tatapan dingin yang meremukkan kewarasanku.
Tapi biar kuemban siksa ini, ketimbang memilih amnesia.
***
Etalase Oligarki
Negeriku kini bukan lagi jantung dunia yang berdegup,
Tinggal segumpal daging santapan empuk kaum oligarki.
Di sini, kehancuran tak bermula dari kobaran api hutan,
Tapi dirancang rapi diam-diam di balik meja perizinan.
Rakyat dikerdilkan dalam angka statistik kemiskinan,
Diambil gambarnya sebagai pemanis proposal.
Air mata mereka telah lama kering, senyumnya kuncup,
Simpati hidup lenyap diratakan mesin korupsi.
Perang ideologi menyusut di rapat-rapat kambing congek,
Musyawarah isinya bualan yang dirayakan berkali-kali,
Seolah kesejahteraan bisa dicetak lewat debat-debat kusir.
Negeriku, sisa perut bumi dan hutan yang dilelang,
Menjadi panggung sirkus dan etalase para penguasa,
Tempat bangsa asing bersulang sambil menertawakan kita.
***
Senja Berdebu
Bendera-bendera partai dilipat ke dalam gudang,
Sisakan sampah baliho dan janji yang perlahan usang.
Sementara anak-anak bantaran kali gajah wong,
Masih main layangan di bawah senja berdebu.
Mereka tak pernah meributi perebutan kuasa makna,
Walau terus dihantui masa kanak putus sekolah.
Cita-citanya telah lepas digesek tajamnya benang,
Jatuh dan hanyut bersama selebaran para caleg.
Pada teriakan remaja di tepi sungai yang pesing,
Kutautkan sisa masa lalu di uluran senar gelasan,
Yang seketika melilit kewarasanku yang tumpul.
Aku tak punya hadiah, apalagi janji manis pilkada,
Hanya sanggup menonton pertunjukan hidup keras,
Saat sore terbakar di atas langit kali gajah wong.
Jakarta, 2014-2026