Sastra

Getir yang Berpendar

Emosiku menjelma bom waktu
Berlipat ganda
Lepas kendali pagi tadi
Meledak, meletup-letup

Aku seperti terkunci
Tersungkur sendiri
Dalam dadaku yang tak seberapa besarnya
Tertunduk diam menyaksikan emosiku,
mengambil alih otoritas tubuh

Sekujur tubuhku memanas
Bom itu benar-benar ada
Mengeluarkan segala kegetiran
Sudut bibir yang tak henti bergetar
Menandakan betapa lama,
menahan gundah resah
Juga ketidaksetujuan yang tak bisa disampaikan

Hah hah hah..
Aku terengah engah
Kesadaranku hampir terenggut
Dadaku makin terasa sesaknya
Kata-kata penghakiman memenuhi pikiran

Aku,
Aku boleh salah?

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *