Sastra

Bu, Aku Menyayangimu, Tetapi Kamu Perlu Tahu

Degup dadaku selalu cepat
Iramanya tak pernah enak didengar
Berlari liar mengejar waktu
Sebab dipacu ibu sedari dini

Aku bahkan baru mengenal jeda
Sejak melepas tumpuan
dari ibu yang tak pernah mengajakku mengenal diri
Sebab Tuhan satu-satunya yang harus dikenali

“Hidup itu keras!”
Kata ibu berulang-ulang setiap hari
Maka itu dilarang merias diri
karena mencintai Tuhan satu-satunya yang wajib

Ibu mengulang peraturan setiap hari
Kadang berubah, kadang bertambah
Dilarang melawan satu-satunya yang mutlak
Sebab surga ditelapak kaki Ibu
“Emang mau masuk neraka?”

Suara ibu selalu keras
Menggema hingga membentuk lebam
Penuh, lengket dalam memori, nurani; memacu degup dadaku lagi
Sesak dan penuh

Hingga, aku menjadi pemendam ulung;
dan tetap menyayangimu.

Like 35
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *