Sastra

Alphabet yang Hilang

Langit-langit kamar memandangi tubuh yang terbaring lemah;
saksi bisu gugurnya seorang manusia.
Entah ia terpedaya oleh bisikan,
atau kalah menjinakkan buas di dalam dirinya sendiri.

Sepasang mata terpejam dalam keheningan.
Tak ada lagi ritme yang mengalir.
Ia bungkam, sementara dosa terus hidup di kepala mereka.
Sialnya, penyesalan tak sempat menyusul segala perbuatan.

Aku diam, menyimpan segudang penghargaan.
Semuanya melebur bersama jiwa yang pulang ke tempat asalnya.
Mereka tak pernah percaya bahwa “ia” adalah pemegang kunci bagi sebuah rahasia.

W, X, Y — Z tak pernah datang; yang berakhir tak benar-benar usai.

O, P, Q—R tak pernah tiba; luka kehilangan ruang untuk bercermin.

B, C, D—E tak pernah menyusul; penyelesaian tinggal ikhtiar tanpa daya.

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *