Sastra

Sisa Isap

Bagaimana mengeja sepasang, jika kau adalah sebatang tembakau
dan aku hanya korek kayu yang sekali gores lalu usai?
Aku menyalakanmu agar kita punya durasi,
tapi kau memilih habis sebagai asap yang dilarikan angin.

Kau biarkan jemariku melepuh demi menjagamu tetap membara,
namun kau justru melarikan diri bersama setiap tarikan napas.
Sebelum nikotin sempat meresap menjadi tenang,
kau sudah menjelma sisa bakaran yang dibuang ke tanah.

Maka lembar-lembar ini tak lebih dari sekadar asbak,
tempatku mengetuk sisa abu dari kepalamu yang menjauh.
Aku tak pernah selesai menulis tentang caramu menyala,
sebab kau selalu lebih dulu padam di ujung puntung yang kau tinggalkan.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *