Tiba hari jumat waktu sakral bagi umat, kenapa penjabat harus merasa hebat?
Jalan menuju dakwah hikmat di belah dua hanya untuk kamu yang lewat
Para umat melihat sinis bengis najis kenapa ini miris dan tragis
Untuk ibadah pun sangat tidak taktis
Seolah harus di utak-atik seakan problematika yang harus selesai dengan dialektika
Aku ingin pukul rata
Orang-orang punya muka dua
Tapi ternyata itu tak nyata
Karena dapurku membutuhkan mereka
Ohhh wahai baginda, bagaimana aku?
Membuatmu menjadi abu
Karna ku pikir aku seperti hantu yang hilang tak menentu
Tak punya arah dan membatu tapi aku tak diam di situ
Ku coba patahkan isu yang menjemu
Mereka anggap aku sampah yang berlalu
Namun itu semu, layaknya benalu
Ku hancurkan semua omong kosongmu
Dengan ku punya kata tersusun terukur terstruktur hingga menembus dubur
Yang mampu membuatmu tersungkur masuk ke liang kubur tanpa nama yang harus di ingat sepanjang kau punya jabatan wahai Gubernur
Ketika Jumatku Bisa Diutak-atik
Shares: