Jurnalistik

Ketika Jumatku Bisa Diutak-atik

Tiba hari jumat waktu sakral bagi umat, kenapa penjabat harus merasa hebat?

Jalan menuju dakwah hikmat di belah dua hanya untuk kamu yang lewat
Para umat melihat sinis bengis najis kenapa ini miris dan tragis
Untuk ibadah pun sangat tidak taktis
Seolah harus di utak-atik seakan problematika yang harus selesai dengan dialektika

Aku ingin pukul rata
Orang-orang punya muka dua
Tapi ternyata itu tak nyata
Karena dapurku membutuhkan mereka

Ohhh wahai baginda, bagaimana aku?

Membuatmu menjadi abu
Karna ku pikir aku seperti hantu yang hilang tak menentu
Tak punya arah dan membatu tapi aku tak diam di situ
Ku coba patahkan isu yang menjemu
Mereka anggap aku sampah yang berlalu

Namun itu semu, layaknya benalu
Ku hancurkan semua omong kosongmu
Dengan ku punya kata tersusun terukur terstruktur hingga menembus dubur
Yang mampu membuatmu tersungkur masuk ke liang kubur tanpa nama yang harus di ingat sepanjang kau punya jabatan wahai Gubernur

Like 6
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *