Populer

Tidak Benar-Benar Peduli, Benarkah?

#1 Mark Berkata
Mark Manson (2018) berkata dalam bukunya Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat, “Anda pasti memedulikan sesuatu.” Kalimat itu membuatku menyadari bahwa manusia memang ditakdirkan untuk peduli. Kita selalu memiliki sesuatu yang dianggap penting, sesuatu yang kita prioritaskan, dan sesuatu yang menyita pikiran kita. Menurut Mark, dorongan untuk peduli ini berasal dari sisi biologis manusia. Karena itu, cepat atau lambat, kita pasti akan memedulikan sesuatu—seremeh atau sepenting apa pun itu.

Mark mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri, “Apa yang kita pedulikan?” “Hal apa yang kita pilih?”
Selain itu, dalam bukunya, Mark memberi contoh kasus tentang bagaimana cara agar kita dapat bersikap masa bodoh terhadap hal yang tidak ada maknanya atau tidak perlu kita pedulikan. Mark bilang, kedewasaan adalah saat kita menjadi semakin selektif terhadap perhatian yang rela kita berikan.

#2 Aku Sadar
Membaca buku ini membuatku belajar bahwa terlalu banyak hal yang terpikirkan olehku, terlalu banyak hal yang aku coba untuk pedulikan. Padahal, untuk membuat hidup lebih tenang dan efektif, aku dapat memilah mana hal yang bisa aku pedulikan dan tidak. Atau mana hal yang seharusnya membuatku bersikap bodo amat.

Aku juga sadar bahwa, menyadari keterbatasan kita adalah suatu bentuk kemerdekaan. Kenapa begitu? Karena menyadari bahwa kita adalah manusia biasa. Menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak mungkin untuk kita lakukan, capai, atau miliki. Menyadari bahwa waktu, tenaga, dan kemampuan kita ada batasnya. Walau jujur saja, bagiku awalnya tetap menyakitkan. Bahwa aku tidak bisa melakukan dan mencapai semuanya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ketika aku mulai menerima kenyataan itu, aku merasa lebih lega. Aku tidak lagi harus memaksakan diri untuk menjadi segalanya bagi semua orang, termasuk bagi diriku sendiri.

#3 Urusan Cinta
Tapi, urusan cinta lain cerita. Pernah tidak makan makanan enak, tapi yang kamu pikirkan malah “Harusnya gue makan ini sama dia. Dia harus cobain betapa enaknya makanan ini.” Atau saat pakai parfum sebelum berangkat ke kantor, “Ini wangi kesukaan dia, gue harus irit-irit makenya, biar masih ada parfumnya pas jalan sama dia.”

Atau saat bawa martabak untuk ke rumahnya, “Oiya, bang martabak cokelatnya jangan pake kacang ya.” Karena kamu ingat dia alergi kacang dan bisa langsung sesak napas hanya karena memakan sebutir kacang.

Memang. Ada hal-hal yang tidak pernah kita niatkan untuk menjadi penting, tetapi diam-diam menetap dalam ingatan. Mereka muncul dalam aroma parfum, potongan martabak, atau makanan yang kita temui di perjalanan. Barangkali begitulah cara cinta bekerja: membuat seseorang hadir bahkan ketika ia sedang tidak ada di hadapan kita.

#4 Hidup Dalam Keseharian Kita
Barangkali karena hal itulah, aku mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang kita pedulikan tapi tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar ataupun istimewa. Tidak selalu berupa keputusan hidup yang penting atau peristiwa yang dapat mengubah segalanya.

Kadang, ia hadir dalam bentuk yang jauhhh lebih sederhana, seperti memiliki seseorang yang tiba-tiba lebih sering muncul dalam pikiran dibanding yang seharusnya.

Ada hal yang lucu tentang memedulikan seseorang.
Awalnya kita tidak sadar.

Lalu tiba-tiba kita mulai bertanya-tanya.
“Kenapa dia belum balas pesan sejak kemarin?”
“Apa dia lagi sibuk?”
“Atau aku bilang sesuatu yang salah waktu terakhir ketemu?”

Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak ada alasan untuk memikirkan semua itu sedalam itu.
Kami bahkan belum saling mengenal terlalu lama.
Tapi tetap saja, pikiran-pikiran kecil itu datang tanpa diundang.
Mungkin karena manusia memang ditakdirkan untuk peduli pada sesuatu.
Atau seseorang.
Dan ketika pikiran mulai berkelana ke mana-mana, aku sering ingin mengingatkan diriku sendiri:
“Aku tidak bingung, kok.”
“Tapi, aku pulangnya sama kamu kan ‘kemarin?”

#5 Terbiasa
Aku sudah mulai terbiasa denganmu. Bahkan godaan lama pun tak lagi membuatku goyah.
Kamu terlalu menarik untuk dilewatkan dan terlalu manis untuk tidak dicoba.

Masih ingat saat aku bilang bahwa aku belum tahu rasamu dan mendeskripsikanmu sebagai Oreo?
Padahal, Oreo rasa blueberry ice cream kesukaanku saja masih kalah menarik dibanding kamu, tahu.

#6 Tidak Benar-Benar Peduli, Benarkah?
Dulu aku pikir bersikap bodo amat berarti belajar untuk tidak terlalu memikirkan banyak hal.
Ternyata aku salah.

Nyatanya, sekeras apa pun aku memfilter hal-hal di hidup ini, selalu ada satu hal yang lolos dan tetap tinggal. Sesuatu yang tanpa permisi mengetuk ruang hati dan enggan pergi dari pikiran. Jadi, mungkin Mark benar adanya: kita memang dikodratkan untuk selalu peduli.
Bukan kepada semua hal, tetapi kepada beberapa hal yang—entah bagaimana—terasa begitu berarti.

Dan akhir-akhir ini, aku mulai tahu apa—atau mungkin siapa—yang aku pedulikan.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *