Wahai manusia,
terkutuklah dirimu dan birahi binatangmu!
Tercampak pada kain putih,
kini bersimbah merah darah.
Ia menetes
perlahan
menjadi saksi betapa durjana dirimu.
Tangis dan sembab mata
puan lantang berucap segala sebab.
Wahai jiwa yang hina dina,
rasakanlah karmamu yang kian hari kian menggila!
Dengan pongah,
tak seucap sesal lahir dari lisanmu.
Tanpa malu,
kau setia terus hidup.
Padahal kataku
mati
jauh lebih baik untukmu.
Percayalah,
hidupmu kian garing,
dan perlahan
kau akan sinting.
Abadilah dalam dosa,
abadilah dalam dusta,
abadilah dalam nista.
Sungguh,
kau akan mati
tercambuk rasa salah.
Tak seorang pun peduli.
Silakan mati.