Sastra

Bukan untuk Pemula dan Nyembuhin Diri Pelan-Pelan

Bukan untuk Pemula

Orang-orang jakarta berjejal tanpa jeda,
bertahan hidup untuk terus berjibaku.
Mereka terhimpit jargon kerja keras-kerja cerdas,
dan yang tersisa hanya merayapi aspal keputusasaan.

Raut kecemasan menjalar di mana-mana,
hantu phk mengusik cetak biru hari tua.
Isi kepala menyusut, menguap, lalu kosong,
menelan 40 jam/minggu peluh para pekerja.

Orang bilang: “Jakarta bukan untuk pemula
ia menolak tiap penganut budaya malu,”
dan melindas siapapun yang lurus-lurus saja.

Jakarta adalah medan laga para jagoan,
kontrakan bulanan bagi pejuang keluarga,
sekaligus aset likuid jenis manusia super loba.

Jakarta, 2026

Nyembuhin Diri Pelan-pelan.

Kupersilakan sankhara putih di mulutku
Bersenandung lepas sesuntuk malam
Bersama bulan muram di langit jakarta
Membelai arus polusi di tidur para pekerja.

Aku belajar berdamai pada kejadian satu-persatu
Di malam-malam november hitam,
Membiarkan ribuan cerita tak manusiawi
Tercecer di media sosial dan portal berita.

Kubiarkan sankhara putih meraba kenyataan
Yang dikitari ribuan langkah pengangguran
Serta tangan-tangan pegal ojol di trotoar.

Di luar medan ikhtiar, orang-orang termangu,
Menata doa, sambil berharap keberuntungan.
Sedang aku khusyuk nyembuhin diri pelan-pelan.

Jakarta, 2026

Like 2
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *