“Aku tersiksa di sini!“
“Inginku mengakhiri hidup saja!“
“Suamiku selingkuh!“
Teriakan-teriakan itu diumpat sembari berlari kembali ke kamarnya
Diiringi tangisan yang memuncak di Selasa pagi
Dadanya bergemuruh penuh
Pikirannya melompat tersesat tanpa arah
Hatinya berlubang ditikam bayangan semu
Menjelma raksasa gunung berapi
Saat logika dan rasa tak lagi berdendang
Ku hampiri hati-hati,
Ku sentuh telapak tangannya yang dingin,
Ku tatap wajahnya sendu,
Ku perhatikan napasnya yang tak seirama denyut nadi,
Bibirnya pucat,
Mencari tenang diselimuti ketakutan
Sementara di dalam darah,
Frixitas berkoalisi dengan depram
Masih belum mampu
Melumpuhkan ingatan pelik
Sudut cahaya matanya masih terjaga ketat
Bangsal di Ujung Rumah Sakit
Mendadak mencekam
Dihujani begitu banyak tangis meraung
Di sisi kiri,
Wanita berkerudung bertasbih
Habiskan hari
Memanjatkan doa keajaiban
Putra kesayangannya hampir terbujur kaku
Suaranya sudah lama hilang
Cerminnya retak dalam diam
Tembok jeruji sumber kegelisahan menjadi tanda pengingat
Jiwa-jiwa terluka tak kunjung sembuh