Bagaimana jika besok aku benar-benar tidak hadir dalam pandanganmu yang pendek itu.
Bagaimana jika besok aku benar-benar tak dapat melihat rupamu untuk terakhir kalinya.
Bagaimana jika besok aku benar-benar tak dapat tersenyum di hari perpisahan.
Bagaimana jika benar-benar aku tak bisa mengetahui jawaban dari relung hatimu yang paling dalam. Bagaimana jika besok aku benar-benar tak hadir dalam pernikahanmu.
Aku tak mengerti apakah engkau benar-benar melihatku sebagai eksistensi yang nyata.
Aku tak mengerti apa isi dari dalam gumpalan darah yang semu itu.
Aku tak mengerti apakah engkau menangis ketika mengetahui bahwa aku benar-benar tak dapat hadir dalam pandangmu lagi.
Apakah aku akan diberi bunga terakhir.
Apakah air matamu benar-benar tulus kehilangan.
Apakah engkau benar-benar tersenyum di hari aku telah tiada.
Yakinilah hari esok adalah rahasia.
Yakinilah hari esok adalah misteri dunia.
Yakinilah hari esok benar-benar tidak ada.
Yakinilah hari esok adalah ketidakpastian.
Yakinilah hari esok adalah kefanaan.
Mengerti bukan berarti memahami, yakin bukan berarti percaya.
Tak mengapa, kau tak mengetahui kelapa jauh lebih mahal dari air keras.
Kau belum mengerti makna.
Hal yang kau anggap berbahaya, ternyata tak lebih berharga dari obat.
Kau hanya terlena dengan realitas, tanpa melihat sebuah fakta yang terpampang sebagai validitas