Sastra

Mengais Kasih Tuna Asmara

Langkah-langkah itu menjadi lari
Berlarian menggenggam harap
“Kau buta? tuli? Jangan bandel kalau diberi tahu”
Pekik suara di gendang telinga, bertalu-talu berkali-kali

Langkah-langkah itu menjadi lari
Berlarian memaksa diri
“Potongan hatimu jatuh menyungkur sepanjang jalur, sadarlah!”
Pekak menerabas meremas-remas isi kepala

“Kau sudah lupa? Bagaiman Ia mengoyak batinmu? Bagaimana Ia bersikap dingin tak peduli? Bagaimana Ia tertawa dengan yang lain dan itu bukan karenamu?”

Cicit-berdecit menggeser-geser kesadaranku

Aku ke pada aku
Sudah sekian kali dikatakan
Apa yang perlu dikatakan, aku katakan
Sudah sekian kali diungkapkan
Apa yang perlu diungkapkan, aku ungkapkan
Dengan atau tanpa kata

Jika aku ingin berkasih, maka aku tak akan berdalih
Perempuan, sepantang apapun kata orang, tidak, aku tetap akan sampaikan. Aku tetap akan ungkapkan. Setidaknya, meluruhkan gumpalan keparat di hati dan kepalaku.

Sebagai wanita normal, aku menyukai laki-laki
Tapi aku tak pernah tahu, laki-laki mana yang normal

Aku tak pernah tahu, laki-laki mana yang coba dekati
Aku tak pernah tahu, laki-laki mana yang jujur tulus

“Aku menanyakanmu, mengabarimu, karena aku butuh kamu untuk project ini”

Hahahahhaa…
Pernah aku merasa didekati untuk kisah kasih
Tapi nyatanya bukan

Apakah aku setidak peka itu?
Apakah aku sedungu itu?

Itulah mengapa sering kukeraskan hati

Tidak, tidak. Aku hanya belum siap. Hingga membiarkan semuanya menggantung di udara.

Terserah…
Entah aku, atau dia, dan dia, yang teramat bangsat

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *