Karya: Sesep Sihabudin
Teruntuk: Nona Abu-abu
Tuhan kapankah lelaki itu berhenti menjahit lukanya sendiri, dengan tangan yang gemetar mencoba mencari peruntungan, sementara kakinya mulai ringkih mentadaburi jejak-jejak kehilangan.
Seorang pria yang masih setia bersandar bahu alam, layaknya seorang petapa yang setia merapal mantra-mantra, kini suara hening menjadi satu-satunya bunyi yang dapat di dengar, sementara pantulan harapan menjelma rembulan yang tak lagi bersekutu dengan langit.
Sang petapa semakin lelap dalam rahim bumi, merapalkan mantra-mantra yang khidmat di kandungnya , seperti puisi yang menggema di dalam goa , namun begitu senyap di dalam rongga dada.
Hingga pada akhirnya sang petapa memilih menidurkan bulan di punggungnya, bukan lagi untuk memiliki tapi untuk mentafakuri.





