Sastra

Ketika Aku Rindu

Jarum berdetak pukul 02.00 dini hari

Sungguh pelanggaran berat bagi pecinta kesehatan kakiki

Uh… tapi hatiku tak kuat
Rindu ini seketika mencuat

Ingat aku saat menatap ruang tamu, saat ku lihat gesturmu membuka surat kabar

Sambil minum teh yang kau seduh sendiri atau dibuatkan Ibu dan Bibi

Terbayang masih binarmu saat aku bisa mengeja A sampai Z dan Alif sampai Hamzah dan kenal siapa Alfa dan Omega

Ingat aku saat kau pukul pipiku saat ketahuan mengisap sebatang Surya, dan saat meneguk Intisari sambil mencium simbol Orang Tua

Ingat aku, saat kau hadiahi aku sebuah gitar saat remaja
Hadiah atas kerja kerasku

Kau bilang, “segala usaha harus dihargai, ini aku berikan karena usaha dan hasil yang engkau raih”

Masih ingat ketika mulai naik tangga karir
Engkau masih kirim hadiah melalui kurir
Dan transfer dana tanpa berpikir.

Hari ini aku terbangun, masih lekat bayangmu seakan masih ada.

Ah… Ada-ada saja, pikiran melayang malam menuju pagi buta ini. Untung bulannya Indah ya?

Hmmm…. Apakah disana bulannya seindah ini Pak?

Satu lagi, engkau sedang apa disana? Semoga kita sama-sama melihat bulan
Senang membayangkan engkau sedang menyesap teh seperti disini, sambil menatap bulan tersenyum bahagia dalam keabadian

Like 15
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *