“Bagaimana caramu melawan sepi?”, tanyaku layaknya bocah.
Seperti biasa, di hadapanmu segala kesoktahuanku luruh, siap mendengar apapun yang akan kau ucapkan. Engkau menghisap puntung rokokmu lebih dalam dari sebelumnya, tertawa tipis layaknya sepi adalah perihal yang paling kau kuasai.
“Aku tidak melawannya”, jawabmu. “Aku berkawan dan hidup bersamanya.”
Sebuah jawaban yang tak masuk di akal kecilku. Bagaimana kita bisa berkawan dengan hal yang paling kita benci? Separuh diriku penuh iba, separuh lagi dirundung takut. Akan mudahkah kau melanjutkan hidup jika suatu hari nanti waktu memaksa kita untuk tidak lagi bersama?
Duka mencinta dan bahagia terdera.
Ternyata engkaulah yang memang lebih siap. Hancurku bertubi-tubi, separuh mati aku melepaskan kepergianmu. Lagi-lagi aku harus berdiri seorang diri. Sungguh engkaulah yang paling tau bagaimana benci dan takutku perihal sendiri. Sungguh engkaulah yang paling tau bagaimana kuat aku mengenggammu agar selamanya engkau menetap di hidupku. Mencintaimu berarti menanggalkan segala nalar, mengkerahkan kasih yang tiada sanggup kuberi pada diri, karena mengasihimu berarti mengasihiku.
“Bagaimana caramu berkawan dengan sepi?”, tanya seorang pria paruh baya di bawah lampu remang malam itu. Ia baru saja meladeniku berceloteh perihal sepertiga hidup yang kulalui. Aku menenggak habis seisi gelas, tertawa layaknya seorang pelawak yang kemudian mendengar candaannya dari bibir yang lain. Konstruksi tubuhku sudah jauh lebih kuat, namun seketika aku melihat bayangmu berdiri di balik punggungnya, tersenyum usil. Sungguh cerdas permainanmu, pikirku. Kau tau kau tengah menghadapkanku dengan sebuah cermin raksasa. Hanya saja kau tak akan pernah tau bahwa sepertiga aku telah terbentuk dari jejakmu. Melihatku, berarti melihatmu.
“Menerima”, jawabku.
– Puan