Sastra

Ku Beri Tahu Engkau

Bagaimana rasanya ada di lubang
Yang tanpa disadari telah digali oleh diriku
Saat menuju rumah ternyamanku
Di atas perbukitan sana

Aku melihat setitik gumpalan cahaya ungu
Tertarik dan terus mengikutinya
Sampai pada langkahku hampir seratus
Aku terjatuh

Isinya hanya ruang tabung tanpa cahaya
Aku melihat ke kanan dan kiri
Bukan bebatuan seperti halnya dalam kubur
Atau tanah merah, baik yang hancur sekalipun

Hanya tanah yang sedikit basah
Dan tanah yang sedikit kering
Menjadi pijakanku

Awalnya kupikir bisa keluar langsung dari sini
Namun jawabannya hanya pada rantai yang muncul mengikat kakiku

Aku melihat ke atas, seseorang mengarahkan senter
Amat terang untuk dilihat mata telanjang
Rasanya seperti ia punya segalanya untuk membantuku keluar dari sini

Lalu, sepuluh. Bukan, lima belas. Juga bukan
Sepertinya lebih daripada itu
Juga mereka mengarahkan senter kepadaku
Cahaya kecil tak seperti orang yang paling terang itu

Masing masing mereka melemparkan tali
Melemparkan tangga
Melemparkan baju yang mereka rakit satu persatu dari sekumpulan mereka

Ingin kupakai itu untuk keluar dari lubang ini
Tapi begitu aku mengangkat kaki
Seakan rantai ini punya mekanismenya sendiri
Untuk aku tetap di sini

Aku berpikir seperti aku bisa keluar dari sini
Hanya dengan usahaku, namun tidak
Sekali lagi, tidak

-io
24 Juni. Di atas jok motor. Satu batang sebelum tidur

Like 2
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *