Benih Dendam.
Dengan tangan gemetar,
kau tabur benih dendam.
Tunas gairah terbit,
mencengkram nafas.
Dengan mata terpejam,
kau telan amarah sialan.
Sampai kita lahir kembali,
untuk saling menggauli.
Sebelum kau usap keringat
Di leher dan pundakku,
kukecup nikmat cekik pelukmu.
Mari kita tuntaskan,
sebelum perpisahan kita rayakan
Dengan lagu gloomy sunday billie holiday.
***
Perempuan Nyaris itu.
Semalam perempuan nyaris itu bermimpi
Tentang laki-laki berwajah sama persis
Ia terbangun dengan tubuh gemetar:
“Matanya cokelat terang, bedebah!”
Laki-laki itu datang sebagai cermin
Ia tertegun menahan ledakan dalam dada
“Hanya mimpi? mata cokelat terang?
Astaga, mataku, ya mataku!”
Ia duduk sejenak—membiarkan pagi masuk
Lalu ia ambil cermin kecil di meja rias,
Meraba wajahnya sendiri sebelum tersesat.
“Laki-laki itu datang tidak untuk tinggal,”
Cetusnya saat mengoleskan lipstick
Di bibirnya yang bergetar—hening.