Sastra

Perayaan Enam

Kereta melaju menembus kabut dini hari
Air mata kering, meski bercampur bau keringat
Mengantar plasenta yang mengering
Runtuh sisakan memar
Dada semakin sesak dihimpit sunyi melebur
Jantung bertalu bagai radar sampaikan amaran

Ternyata tak selamanya jemari kecil menyentuh kulit bersuara
Rasanya hampir ditimpa gerhana
Seketika suara nyaringmu bisu saat memanggilku

Napas yang bertumpu pada selang oksigen
Meratapi janji terikat
Saat raga yang gemetar, getir, dan lirih
Hampir tak sadar memacu hingga tepi jurang

Ada yang berhenti beranjak
Ada yang berhenti berdenyut
Ada yang menyerah menerjang

Hening,
Rupa-rupa rasa
Menemani gelap gulita malam ini
Amuk amarah, setitik kecewa
Mencari jalannya sendiri

Perayaan berhenti di enam
Ada di sana
Dia terjebak pada taman syurga
Sampai nanti saatnya berjumpa

Like 3
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *